tempat tinggalku hanya sebuah kamar kecil berlantaikan tanah disemen, dialasi tikar teddy&bunny ku. Udara dingin, aku nggak punya uang sama sekali. Dapat telepon dari Pak Agung, dikasih kerjaan nyupirin dia, tapi jemput dia di Bangkok. Ternyata 'Bangkok' adalah nama hotel, setelah tanya receptionist, pak Agung ada di kamar no.18 Aku udah mikir ni kayaknya aku mau di-ewe nih disuruh ke hotel segala. Aku membuka pintu kamar, terlihat seorang om-om pendek gendut, istilahnya GUNDEK, sipit, kulit coklat, rambut agak gondrong lurus seperti di-ion. Om itu duduk di ranjang memakai outfit eksekutif. Dia menoleh kaget, tampaknya salah orang. Au terus berjalan di koridor kamar-kamar, mencari Pak Agung. Kamar-kamar itu pintunya kaca transparan. Baru beberapa langkah aku pikir 'ah buat apa nemuin orang yang mau nidurin aku' jadi aku cepat-cepat jalan ke luar hotel dan menulis pesan di secarik kertas pakai spidol, kutitipkan ke receptionist, begini isinya: 'Maaf Pak saya nggak jadi nganter, saya nggak bisa kalau pakai cara seperti ini'. Terus aku menuju IKJ karena ingat Yola juga mau ngasih kerjaan nulis.
Ganti scene, aku kelas 3 SMA di Dempo, dengan usia dan badanku yang sekarang ini. Ceritanya Mama masukin aku ke Dempo lagi hanya untuk mengulang kelas 3, untuk memantapkan sesuatu. Aku sekelas dengan Stephanie Darda, ruang kelasnya mirip kelas 1, yang luas, panjang, semakin gelap menuju ke barisan bangku belakang. Pelajarannya susah, terutama Matematika. Aku stress dan merasa butuh liburan jadi aku membolos tiga hari. Setiap malam aku ada di XXI, nonton sendirian. Dari film musical, komedi, macem-macem deh. Aku kenal seorang cowok, dikenalin Gerry, aku lupa namanya siapa, tapi mukanya adalah tengkorak. Suatu malam di XXI aku menoleh dan melihat si muka tengkorak lagi duduk, minum, dan melambai ke arahku. Aku tanya sama Gerry kenapa kepala temannya itu kerangka kepala manusia, Gerry bilang dulu temannya itu sakit batu empedu.
Comments