waktu terus berjalan, namun kita adalah satu-satunya makhluk yang dianugerahi kesadaran. masa lalu adalah ilusi dan masa depan hanyalah imajinasi. sekarang ini yang benar-benar nyata, dan aku telah mengalami kenyataan setiap detik dalam hidupku, karena aku menyadarinya.
detik demi detik: menyadari kekuatan
Kenapa rasanya begitu menegangkan, hanya menunggu pengumuman penerimaan mahasiswa. Universitas mana yang akan menolak pemasukan dana? Apalagi hanya Institut Kesenian Jakarta. Tidak ada tes UMPTN, gedungnya pun tidak keren. Tapi ternyata memang tidak semua yang mendaftar diterima. Apa yang jadi penilaian, tetap teka-teki.
Ibuku lebih bersemangat daripada aku. Beliau mengurus semua formulir dan aku hanya duduk memandang lapangan kecil dan bangunan-bangunan yang sepertinya dibangun tanpa konsep dan pemikiran panjang.Ini Jakarta, Ibukota Indonesia, kota megapolitan, pintu awal modernisasi sebelum sampai ke kota lainnya. Tapi ruang administrasi SMA ku di Malang jauh lebih menawan daripada ruang administrasi FFTV IKJ.
Aku menjalani tes masuk dengan penuh percaya diri. Asalkan tidak ada Matematika, tidak ada yang aku tidak bisa. Pertanyaannya adalah tentang tsunami Aceh dan kecerdasan visual. Berikutnya tes lisan. Orang tua itu tanya ingin jadi apa aku di IKJ ini. "Penulis." jawaban itu begitu mantap tanpa sedetikpun aku berpikir. "Oke, kalau memang ingin jadi penulis, silahkan tulis sajak sekarang!" Orang tua itu keluar ruangan dan mematikan lampu ruangan itu. Tembok yang di-cat hitam membuat ruangan itu gelap total. Aku lupa apa yang aku tulis, tapi... it was done, easy.
setelah diterima jadi mahasiswa, dilantik menjadi "keluarga besar"
Aku percaya bahwa kedua mata ini bukan satu-satunya indera yang melihat, yang memotret gambar menjadi ingatan. Dengan baris-berbaris saling berpegangan pada bahu, kami dibawa berjalan di area kampus, maka "mata" yang satu lagi pun dibangunkan untuk menyaksikan, memotret, dan menyimpannya langsung di alam bawah sadar. Mataseni.
sendiri menuju kegilaan
Bukan lapar yang membunuh manusia, tapi kesepian.
Aku tidak pernah berhenti bercerita. Seumur hidupku, aku cerewet sekali menceritakan hari, karena selalu ada hal yang menarik. Setiap hari adalah petualangan!
Bukan panasnya Jakarta yang begitu menyiksa, bukan kamar kosku yang sempit, pula bukan uang sedikit yang hanya cukup untuk makan sekali dalam sehari, tapi tidak ada teman untuk disapa dan bertukar cerita. Aku menghabiskan waktu berjam-jam hingga larut malam di kampus, duduk sendirian, karena nantinya pasti akan ada yang menemani dan mengobrol walau hanya sebentar, tapi di kosku aku benar-benar hampir gila dengan kesepian. Tidak ada obat yang lebih ampuh selain menulis, bukan? Maka aku menyibukkan diri dengan tulisan saat itu. Namun menulis pun begitu menyakitkannya, pada tahun 2007.
Ah, sakit ini sebentar saja. Bagi perantau, selalu ada yang namanya "pulang kampung", begitu pikirku. Pulang ke rumah, apa yang lebih menyenangkan dari itu? Tidak ada. Oktober 2007, aku ditelepon, diberi tahu, bahwa di Malang pun, kini aku nggak punya rumah.Kejadian itu begitu tajam menusuk daging, lebih lagi karena tidak ada yang peduli. Tidak ada yang bisa berempati, karena semua orang punya rumah. Itulah momen yang membuatku membangun rumah di jalanan. Rumahku adalah setiap kali aku bergerak.Aku ada di dalam bus kota, berjalan di atas jembatan busway, sendiri, pergi ke tempat-tempat yang aku nggak tau pasti, tanpa tujuan apapun selain membunuh marah dan sepi.
Aku mau mabuk setiap hari, aku mau lupa bahwa kamar kos brengsek itu satu-satunya rumahku
2007: mabuk setiap hari.
2008: Rumahku di Jalanan
Foto ini diambil ketika aku diusir dari rumah. "Kalau kamu tidak suka Mama suruh, kamu jangan datang ke sini lagi."
Satu keluarga sudah pindah ke Jakarta, tepatnya ke Bintaro. Diusir bukanlah hal baru bagiku. Walau begitu, aku selalu mengingatnya. Bukan karena mendendam, tapi untuk mengingatkan, bahwa aku bukan orang jahat yang meninggalkan keluarga, tapi aku diusir. Dengan mengingat demikian, rasa bersalah tidak seharusnya hinggap di dadaku, dan memang tidak. Aku hidup bahagia, bangga, bahwa aku tetap tidak pulang atau minta dikirim uang, walau akhirnya pada suatu hari aku pingsan karena hanya makan gorengan. Sambil menelan duri kemarahan, aku masih bisa tersenyum. Kini aku mengenal diriku dan memperkenalkan diri pada kedua orangtuaku yang tampaknya kesulitan mengenali anaknya ini: Aku bukan anak yang bisa ditakut-takuti. Aku lebih takut pada perasaan menjadi pecundang, daripada rasa lapar. Aku lebih takut pada perasaan menjadi penakut, daripada resiko fatal -- karena menjadi diri sendiri.
Lian. Mahasiswi Universitas Trisakti, saat itu. Dia menawarkan traktiran makan di foodcourt Plaza Semanggi, setelah tahu ATMku tidak pernah terisi lagi sejak aku pergi dari rumah. Beberapa kali ia menginap di kos. Kami main THE SIMS sampai larut malam, makan indomie di warung, dan nongkrong dengan Nique, Daru, dan Anis di Bata Merah, TIM.
Berpartisipasi dalam proses syuting ujian akhir senior juga menyelamatkan aku dari kelaparan. Walau tidak ada bayaran, setidaknya bisa makan tiga kali sehari. Saat itu aku punya pacar, tapi dia tidak berguna. Hanya untuk membuatku merasa tidak sendirian pun dia gagal. Lian lebih membekas di ingatanku.
Minggu ke-3 aku diminta datang ke rumah. Pihak yang rindu menyerah kalah. Di kamar kakakku terus-terusan menekankan bahwa aku jahat, aku membuat kedua orangtuaku menangis di dalam kamar karena aku tidak pernah menghubungi mereka lagi. Opini memang selalu dari sudut pandang satu sisi, itulah mengapa orang yang tahu paling sedikit lah yang paling mudah untuk menghakimi.
Frame: Hidup ini terlalu luas, maka bingkailah
"Disturbance", judul film itu. Aku memberanikan diri bermain dengan bingkai. Berjam-jam kuhabiskan waktu untuk mencerna lembar demi lembar pemikiran Soren Kiekergaard yang aku print dari Internet.


Comments