8 Juni 2013, aku tidur jam 2 pagi.
Langsung duduk di ruang tamu dengan Ernst. Dia megang gitar. Kami baru saja memainkan lagu-lagu tulisanku. Udaranya sejuk seperti di Malang. Langitnya putih berkabut, entahlah itu pagi/siang/sore/malam. Aku melihat dia seperti berkaca saja, seperti melihat diriku versi cowok. Lalu dia curhat, bahwa hidupnya bergulir gak karu-karuan, muter-muter di situ saja, dan dia hanya ingin kembali menjalin hubungan dengan kakakku. Aku ingin menjawab, memberi pencerahan, tapi aku ngantuk sekali. Udaranya seperti udara sehabis hujan. Perasaanku gloomy karena mendengar dia sedih tapi mataku ingin merem. Aku terbangun karena segerombol FPI memakai jubah putih dan sorban datang, masuk ke teras tanpa permisi.
Aku keluar, marah. "Ngapain ke sini?" "Ada duit nggak?" tanya salah satu dari mereka. "Ga ada!" jawabku. Mereka ngeluarin senjata, entah apa itu, benda tumpul. Aku langsung gulung koran, jadiin senjata juga. "Ayo! Pergi! Pergi!"
Langsung duduk di ruang tamu dengan Ernst. Dia megang gitar. Kami baru saja memainkan lagu-lagu tulisanku. Udaranya sejuk seperti di Malang. Langitnya putih berkabut, entahlah itu pagi/siang/sore/malam. Aku melihat dia seperti berkaca saja, seperti melihat diriku versi cowok. Lalu dia curhat, bahwa hidupnya bergulir gak karu-karuan, muter-muter di situ saja, dan dia hanya ingin kembali menjalin hubungan dengan kakakku. Aku ingin menjawab, memberi pencerahan, tapi aku ngantuk sekali. Udaranya seperti udara sehabis hujan. Perasaanku gloomy karena mendengar dia sedih tapi mataku ingin merem. Aku terbangun karena segerombol FPI memakai jubah putih dan sorban datang, masuk ke teras tanpa permisi.
Aku keluar, marah. "Ngapain ke sini?" "Ada duit nggak?" tanya salah satu dari mereka. "Ga ada!" jawabku. Mereka ngeluarin senjata, entah apa itu, benda tumpul. Aku langsung gulung koran, jadiin senjata juga. "Ayo! Pergi! Pergi!"
Comments