Skip to main content

Rabu...hari yang acak.

Rabu di bulan Juni.
Aku terbangun dengan mimpi membungkus Alm.Mbak Luluk dengan kain kafan. Ia tampak cantik, menutup matanya sambil tertawa dalam senyumnya yang dikulum. Aku dan Mama duduk mendampingi dia, sambil melirik ke jam dinding, 10 menit lagi Mbak Luluk akan pindah ke alam akhirat, dan ia tampak siap.
Aku terbangun dan sedih. Bukan karena mimpi itu, tapi karena sudah kudengar suara para penghuni baru di rumah ini. Berbincang di meja makan, aku merasa inilah mimpi buruk yang sesungguhnya.
Aku rasanya tidak sanggup keluar kamar jadi aku tidur lagi. Aku mimpi sedang mecah-mecahin piring dan gelas di cucian. Aku bahkan ngigau teriak. Aku terbangun karena teriakanku sendiri. Pipiku basah tanpa aku ingat kapan aku menangis. Aku benar-benar tidak keuar kamar, aku takut menghadapi kenyataan. Sungguh kehadiran satu keluarga baru ke rumah orang tua ku ini, untuk tinggal sementara waktu (kira-kira satu tahun) ini rasanya bagaikan kiamat. Aku putar otak keputusan apa yang harus kuambil. Semalam sebelumnya sudah kupikir, dan aku hanya akan merugikan diri sendiri kalau aku sewa kamar kos sementara aku sudah harus menabung untuk liburan Januari 2014.
Akhirnya Mama yang membuka pintu kamarku, hanya untuk berpamitan. Setelah semua orang pergi, aku keluar, membuat kopi hitam, dan duduk berderai air mata lagi di sofa ruang tamu. Ini mimpi buruk. Ini nggak benar-benar terjadi kan?
Setelah meneguk kopi hitam yang bagaikan Dewa Kebijaksanaan itu, aku mulai tenang. Nafasku mulai teratur. Diiringi lagu-lagu penuh semangat memaki-maki dari Marilyn Manson, tiba-tiba dibisikkan kepadaku ingatan tentang ini:

Hidup itu ditentukan oleh 10% kejadian-kejadian yang kita alami,
dan 90% reaksi kita pada kejadian-kejadian tersebut.



Comments

Popular posts from this blog

It Has Been A Lot!

Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...

What is happiness? It sounds like a snack.

I would, like usually, open this post by saying "Things are crazy". Yes, I don't know are things really crazy or is it just me. I think it's the latter. Life appears as surprises to me. And I act like a door, opening this tunnel, closing another one. I don't feel dull, and I can't say my days have been dull for they are full with challenges. But I have been so alone. This also sounds weird. Since when that I'm not alone? I always pull myself back from any social event. I hang out alone. I guess the last time I had a good time outside the house/office/campus with another human being was the last Saturday in January, so it's a month ago. It is true that if I just ask, I will get people willing to go with me. But I am the pickiest picky pick ever because most of the times when I don't pick, I get bored with dull conversations, or a view of someone watching his/her phone like there's nothing else to see. So all this time I hang out alone. Mos...

yang hilang dan jadi debu

ada sesuatu yang diam-diam kupercaya walau ia hilang ditelan bisingnya Jakarta: Islam ada cara hidup yang sederhana, menawarkan kesadaran untuk mampu mengendalikan kecepatan, dengan disiplin lima kali dalam sehari, dan tidak lebih lama dari basa-basi ada cara bertutur yang tegas dan disetujui tubuh, istighfar membuatku sadar, bahwa yang sakit bisa pulih tasbih menunduk-daguku, bahwa seniman itu sebuah entitas hamdalah hangatkan bahuku, ada yang Maha kendali di atas kendaliku