Skip to main content

Keisha Aozora

"Kau tahu, saat kau mencapai bagian paling menyakitkan, kau sebaiknya tetap menuliskannya. Kau tidak bisa minta tolong pada abjad, pada jarimu, pada kepalamu sekalipun. Kau harus setuju dengan seluruh sistem tubuh dan pikiranmu - bahwa kamu akan menuliskannya. Kau mungkin seorang pengecut yang tidak bisa berenang, atau mungkin seorang pemanjat tebing yang akrab dengan bahaya. Tapi menulis adalah kegiatan spiritual, kawan. Menulis adalah kemampuan untuk jujur. Tak bisa kau temukan di rumah ibadah maupun klab malam.Di hutan, gunung, tidak juga."

Minggu, 6 Maret 2011 


"aku tak ingin berjarak dengan malam
karena sebenar-benarnya
kami hanya terpisah sejauh kelopak mataku

jika kutatap cermin maka yang kulihat adalah
kerinduan padanya,
pada batas yang dikaburkan hembusan karbondioksida,
pada dingin yang menembus daging,
ajakan untuk menanggalkan mesin"

                                                                                                                          Senin, 20 September 2010


"ketika bau roti baru keluar dari oven,
spaghetti, sambal terasi,
parfum Kenzo, lavender aromatherapy
bau bensin, tanah basah, rumput teki
tak mampu memberi sedikit sensasi

ketika rasa baileys, teh tarik, kopi jambi
nikotin, kokain, heroin tidak berfungsi
sementara cannabis tetap bau mesin cuci

tidur cukup, tari bebek, overworking,
 acara Mak Bongky, puncak Bromo, udara pagi
tidak bisa menarik bibir ke samping satu senti

kudengar langkahmu yang tidak menapak,
tidak terbang, merangkak, melata, maupun memamahbiak,
tapi menjalar seperti getaran listrik tegangan nanggung
siap menerkam dengan gerak tari srimpi

lewat punggung kadang ujung-ujung jari
lewat tarikan nafas, atau bulu-bulu kaki

sebenarnya aku tak punya selimut itu
tidak ada tempat yang cukup hangat
aku tak punya bidang sandaran
atau sekedar perisai kecil-kecilan untuk menangkis tajam pedangmu"
                                                                                                                          Rabu, 15 September 2010


Comments

Popular posts from this blog

It Has Been A Lot!

Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...

What is happiness? It sounds like a snack.

I would, like usually, open this post by saying "Things are crazy". Yes, I don't know are things really crazy or is it just me. I think it's the latter. Life appears as surprises to me. And I act like a door, opening this tunnel, closing another one. I don't feel dull, and I can't say my days have been dull for they are full with challenges. But I have been so alone. This also sounds weird. Since when that I'm not alone? I always pull myself back from any social event. I hang out alone. I guess the last time I had a good time outside the house/office/campus with another human being was the last Saturday in January, so it's a month ago. It is true that if I just ask, I will get people willing to go with me. But I am the pickiest picky pick ever because most of the times when I don't pick, I get bored with dull conversations, or a view of someone watching his/her phone like there's nothing else to see. So all this time I hang out alone. Mos...

yang hilang dan jadi debu

ada sesuatu yang diam-diam kupercaya walau ia hilang ditelan bisingnya Jakarta: Islam ada cara hidup yang sederhana, menawarkan kesadaran untuk mampu mengendalikan kecepatan, dengan disiplin lima kali dalam sehari, dan tidak lebih lama dari basa-basi ada cara bertutur yang tegas dan disetujui tubuh, istighfar membuatku sadar, bahwa yang sakit bisa pulih tasbih menunduk-daguku, bahwa seniman itu sebuah entitas hamdalah hangatkan bahuku, ada yang Maha kendali di atas kendaliku