Awal munculnya ide mengulas topik ini adalah karena kemarin saya menerjemahkan BAB I sebuah skripsi untuk karya tari yang menceritakan tentang perjalanan hidup dalam masa remaja. Sepanjang 10 halaman, saya menyelesaikan terjemahan itu dalam waktu tiga setengah jam. Dua jam awal disambi ngobrol-ngobrol dengan si penulis, satu jam dikerjakan di dalam kopaja 20 AC, dan satu jam lagi di Aneka Bubur, Radio Dalam, sementara teman saya tertidur lelap sekali.
Dalam skripsi teman saya itu, banyak sekali teori yang membahas tentang masa remaja, diantaranya dari filsuf Prancis Rosseau, dan dari blog-blog pendidikan mental.
Pada dasarnya, mereka setuju pada satu hal, yaitu energi yang dimiliki remaja sangat besar sementara kesadaran psikologinya sangat mudah dipengaruhi.
Musik, menurut saya, adalah ekspresi personal seorang musisi, tidak berbeda dengan film, atau bentuk hiburan lainnya. Remaja punya kecenderungan untuk meniru, atau minimal menetapkan standar-standar dalam hidupnya pada konsumsi audio-visualnya. Misalnya, pada tahun kemunculan film Ada Apa Dengan Cinta, setelah itu semua siswi SMA pakai kaus kaki panjang hampir se-lutut, baju seragam dibuat ketat, rambut panjang kembali trend setelah trend rambut shaggy. Padahal film Ada Apa Dengan Cinta menyampaikan perjuangan seorang gadis mendapatkan cintanya, walau bertentangan dengan keinginan kelompok.
Pada masa diterimanya musik Green Day atau Limp Bizkit di Indonesia, siswa SMP sampai kuliah sering terlihat memakai celana nanggung, dipadu dengan kaus kaki dan sepatu Converse/ All Star. Secara penampilan, lapisan ter-luar seorang manusia saja, sudah tampak pengaruh sebuah konsumsi pada konsumennya.
Tentu dalam konteks ini, kita membicarakan musik main stream, musik yang dipoles oleh major label, yang bisa menjangkau radio-radio sampai di seluruh daerah di Indonesia.
Pada tahun 90an awal, anak-anak muda Indonesia mendengarkan Iwan Fals dan Slank. Musisi internasional yang terkenal saat itu adalah Bob Marley. Apa yang disuarakan oleh ketiga icon ini?
Protes. Dalam bentuk seni yang sangat menyenangkan untuk didengarkan berulang kali, ketiga musisi ini mengkritisi pemerintah yang penuh rahasia dan tidak menepati janji. Akibatnya, hampir semua lapisan remaja pada masa itu sangat sensitif pada berita mengenai politik negara.
Keputusan mentri/presiden bisa jadi lagu. Slank ngeluarin Orkes Sakit Hati, Balikin, dsb. Semua tentang bobroknya pemerintahan Indonesia, tapi tidak ada kata-kata "presiden" atau subyek-subyek terkait lainnya. Semua dikemas secara sublim, dan menurutku itulah karya seni.
Pada masa itu, bukan tour de mall alias nongkrongin mall ini mall itu kalau mau dibilang gaul. Ikut demonstrasi, itu standar gaul. Sampai-sampai, banyak juga yg nggak ngerti apa yang di-demo-in tapi ikut aja. Itu pengaruh dari konsumsi musik paling mainstream di Indonesia pada masa itu: SLANK. Pada masa ini, aku masih SD.
Ketika tiba masaku remaja, pilihan musik main stream lebih banyak. Tidak ada yang full dominasi seperti SLANK. Ada pilihan: Britney Spears, NSYNC, Limp Bizkit. Dan yang tidak se-populer tiga musisi ini juga terus muncul di permukaan, tidak tenggelam. Aku menikmati semuanya, tapi yang aku rela untuk mengeluarkan uang membeli kasetnya adalah Limp Bizkit. Kaset NSYNC, Britney Spears, Sheila On 7, cukup pinjam teman atau temannya kakak.
Karena aku punya kasetnya, otomatis itulah yang paling sering kudengarkan saat di kamar. Lirik-lirik Limp Bizkit mengungkapkan kekecewaan pada generasi saat itu, generasi baru, generasi tahun 2000.
generation x,
generation strange sun don't even shine through our window pane
so go ahead and talk shit talk shit about me go ahead
and talk shit
about my generation
Album ini rilis Oktober 2000. Musisi-musisi yang menyuarakan protes seperti ini selalu hanya tampak seperti "seni marah-marah nggak jelas", padahal, kalau kita menelaah benar liriknya, kebetulan dari dulu aku suka kata-kata, aku suka puisi, sehingga lirik selalu dapat tempat spesial ketika aku menikmati sebuah musik.
Di balik banyaknya kata fuck dan shit dalam album Chocolate Starfish Flavored Water, lagu-lagu dalam album ini mempromosikan sikap berdiri sendiri, tidak mengharapkan bantuan orang lain, karena inilah generasi milenium, kami kehilangan solidaritas ala 90an. Sehingga, siapa yang masih mengharapkan keadaan yang sama, akan tertinggal dan kecewa. Saatnya menerapkan cara hidup yang baru.
drama keeps the world go around
potongan lirik itu dari lagu "Livin' It Up", ini adalah sebuah satire yang informatif, bahwa teman-temanmu sudah keribetan dengan drama hidupnya masing-masing.
Masa remajaku diisi dengan Limp Bizkit, Avril Lavigne, dan album "American Idiot"nya Green Day, dan aku sadar seberapa porsi musik dalam membentuk diriku yang sekarang 25 tahun ini.
Dalam skripsi teman saya itu, banyak sekali teori yang membahas tentang masa remaja, diantaranya dari filsuf Prancis Rosseau, dan dari blog-blog pendidikan mental.
Pada dasarnya, mereka setuju pada satu hal, yaitu energi yang dimiliki remaja sangat besar sementara kesadaran psikologinya sangat mudah dipengaruhi.
Musik, menurut saya, adalah ekspresi personal seorang musisi, tidak berbeda dengan film, atau bentuk hiburan lainnya. Remaja punya kecenderungan untuk meniru, atau minimal menetapkan standar-standar dalam hidupnya pada konsumsi audio-visualnya. Misalnya, pada tahun kemunculan film Ada Apa Dengan Cinta, setelah itu semua siswi SMA pakai kaus kaki panjang hampir se-lutut, baju seragam dibuat ketat, rambut panjang kembali trend setelah trend rambut shaggy. Padahal film Ada Apa Dengan Cinta menyampaikan perjuangan seorang gadis mendapatkan cintanya, walau bertentangan dengan keinginan kelompok.
Pada masa diterimanya musik Green Day atau Limp Bizkit di Indonesia, siswa SMP sampai kuliah sering terlihat memakai celana nanggung, dipadu dengan kaus kaki dan sepatu Converse/ All Star. Secara penampilan, lapisan ter-luar seorang manusia saja, sudah tampak pengaruh sebuah konsumsi pada konsumennya.
Tentu dalam konteks ini, kita membicarakan musik main stream, musik yang dipoles oleh major label, yang bisa menjangkau radio-radio sampai di seluruh daerah di Indonesia.
Pada tahun 90an awal, anak-anak muda Indonesia mendengarkan Iwan Fals dan Slank. Musisi internasional yang terkenal saat itu adalah Bob Marley. Apa yang disuarakan oleh ketiga icon ini?
Protes. Dalam bentuk seni yang sangat menyenangkan untuk didengarkan berulang kali, ketiga musisi ini mengkritisi pemerintah yang penuh rahasia dan tidak menepati janji. Akibatnya, hampir semua lapisan remaja pada masa itu sangat sensitif pada berita mengenai politik negara.
Keputusan mentri/presiden bisa jadi lagu. Slank ngeluarin Orkes Sakit Hati, Balikin, dsb. Semua tentang bobroknya pemerintahan Indonesia, tapi tidak ada kata-kata "presiden" atau subyek-subyek terkait lainnya. Semua dikemas secara sublim, dan menurutku itulah karya seni.
Pada masa itu, bukan tour de mall alias nongkrongin mall ini mall itu kalau mau dibilang gaul. Ikut demonstrasi, itu standar gaul. Sampai-sampai, banyak juga yg nggak ngerti apa yang di-demo-in tapi ikut aja. Itu pengaruh dari konsumsi musik paling mainstream di Indonesia pada masa itu: SLANK. Pada masa ini, aku masih SD.
Ketika tiba masaku remaja, pilihan musik main stream lebih banyak. Tidak ada yang full dominasi seperti SLANK. Ada pilihan: Britney Spears, NSYNC, Limp Bizkit. Dan yang tidak se-populer tiga musisi ini juga terus muncul di permukaan, tidak tenggelam. Aku menikmati semuanya, tapi yang aku rela untuk mengeluarkan uang membeli kasetnya adalah Limp Bizkit. Kaset NSYNC, Britney Spears, Sheila On 7, cukup pinjam teman atau temannya kakak.
Karena aku punya kasetnya, otomatis itulah yang paling sering kudengarkan saat di kamar. Lirik-lirik Limp Bizkit mengungkapkan kekecewaan pada generasi saat itu, generasi baru, generasi tahun 2000.
generation x,
generation strange sun don't even shine through our window pane
so go ahead and talk shit talk shit about me go ahead
and talk shit
about my generation
Album ini rilis Oktober 2000. Musisi-musisi yang menyuarakan protes seperti ini selalu hanya tampak seperti "seni marah-marah nggak jelas", padahal, kalau kita menelaah benar liriknya, kebetulan dari dulu aku suka kata-kata, aku suka puisi, sehingga lirik selalu dapat tempat spesial ketika aku menikmati sebuah musik.
Di balik banyaknya kata fuck dan shit dalam album Chocolate Starfish Flavored Water, lagu-lagu dalam album ini mempromosikan sikap berdiri sendiri, tidak mengharapkan bantuan orang lain, karena inilah generasi milenium, kami kehilangan solidaritas ala 90an. Sehingga, siapa yang masih mengharapkan keadaan yang sama, akan tertinggal dan kecewa. Saatnya menerapkan cara hidup yang baru.
drama keeps the world go around
potongan lirik itu dari lagu "Livin' It Up", ini adalah sebuah satire yang informatif, bahwa teman-temanmu sudah keribetan dengan drama hidupnya masing-masing.
Masa remajaku diisi dengan Limp Bizkit, Avril Lavigne, dan album "American Idiot"nya Green Day, dan aku sadar seberapa porsi musik dalam membentuk diriku yang sekarang 25 tahun ini.

Comments