Skip to main content

jika tubuh adalah sebuah memori

tubuhku,
lebih dari kulit untuk merasa. begitu pula tubuhmu. adakah yang kau ingat dari perjalanan hidup tubuhmu? kadang kita terlalu mengggunakan otak sehingga lupa dengan tubuh kita. Kita hanya ingat pengalaman-pengalaman audio visual. Namun aku tidak bisa begitu.

Kata Ibuku waktu balita aku kurus, dan sempat kena TBC. Untungnya aku nggak ingat hahahaha!
Yang kuingat adalah ketika SD badanku besar. Kelas 1 SD aku datang ke acara ulang tahun teman di McD, pakai short dress sleeveless and I felt so beautiful!! Ada bandananya yang bermotif sama dengan dress nya. Warna oranye. Aku merasa sangat cantik sampai ada Om-om yang bilang aku gemuk dan sehat, pake nanya apakah aku minum susu setiap hari. FAK! Hancurlah hari itu. Mungkin itu adalah hari pertama dalam hidupku aku merasa gemuk. Om itu megang kedua lenganku.
Begitu sampai di rumah, aku bercermin. Dan aku setuju bahwa badanku besar. Badanku tidak cantik.
Aku dibesarkan oleh pembantu, maksudku, sebagian besar waktuku kubagi dengan beliau, yang suka membelikanku jajan dan makan siang di McD. Jadinya badanku makin gendut dan makin gendut. Waktu kelas 3 SD aja beratku sudah 45kg sampai dokter THT nya kaget dan menasihati ibuku agar menjaga pola makan anaknya (Makanya mami perhatiin adek dong! Kasian ni adek jadi anak pembantu!)

Pengalaman bertubuh gendut semakin meresap ke hati begitu menginjak SMP, saat semua teman-teman cewek sudah sadar pentingnya bertubuh indah, selain bermuka cantik. Sebenarnya secara sensibilitas tubuh aku tidak merasa gendut-gendut banget saat itu, karena aku lebih lincah dari mereka yang bertubuh petite (bahasa halus dari garing, biting), dan aku selalu dipuji saat menari Jawa. Tapi lingkungan di sekitarku terus menanamkan ide itu, bahwa aku ini gendut, gembrot.
Aku jadi malas datang ke pertemuan apapun, dari anak kecil sampai teman-teman orangtuaku pasti mengambil momen untuk bilang betapa gemuk,gendut,sehatnya aku ini.

Puncak kekecewaanku (pada tubuhku sendiri) adalah ketika kelas 2 SMP aku ditolak dari kelompok dance sekolah, bukan karena aku tidak bisa menari, tapi karena "tidak enak dilihat di atas panggung"

Kau tahu nggak, tidak lama kemudian beberapa anak dance dari grup lain mencariku untuk dibuatkan koreografi. Mereka lalu tampil di atas panggung, dan dari bawah aku menonton dengan bangga sekaligus sedih, kenapa aku tidak ada di sana. Aku ingin menari di atas panggung! Aku ingin dapat panggung.

Kelas 1 SMA, keadaan semakin parah. Kekecewaan pada tubuh berakibat semakin buruk pada sikap kita pada tubuh itu. Aku makin gendut sampai pada titik aku pun sadar aku itu gendut banget, 75 kg. (Tapi tetep aja aku bisa menari dan bisa bikin koreografi. Aku heran lihat kakak-kakak kelasku nyewa koreografer, terus jadinya jelek lagi, kayak gerakan aerobik. )

Kelas 2 SMA, untungnya, aku jatuh cinta (sama cowok) dan aku diberi kado ulang tahun sebuah buku oleh Ernst, judulnya If High School Is A Game Here's How To Break The Rules.
Buku itu tidak membahas tentang diet, tapi ada kalimat "If you don't like something, change it"
Itulah momen aku mulai diet, tanpa panduan buku apapun, tanpa bantuan obat apapun. Pokoknya aku makan saja, nggak pake jajan. Setelah itu kumodifikasi lagi dengan olahraga mengikuti rangkaian gambar di sebuah majalah. Sungguh, perubahan itu tidak mudah. Namun saat itu, semakin ada yang mengejek kegendutanku, aku makin semangat berolahraga dan TIDAK MAKAN MALAM.

Tubuhku ingat rasanya tidur dengan perut lapar dan tidak ada yang peduli karena aku tinggal di kos-kosan saat itu. Aku juga ingat rasanya baju dan rok seragam yang jadi terrlalu longgar sampai akhirnya beli baru dengan ukuran yang baru. Itulah keberhasilan yang besar! Aku sudah lupa dengan jatuh cintaku hahahaha, jatuh cinta itu cerita sampingan, tapi tentunya cowok itu juga memujiku dan mengkhawatirkan aku yang jadi semakin langsing oohhh kemenangan besar!!

Aku juga ingat rasanya menjadi kuat, ternyata kekuatan itu memang benar bisa ditambah, seperti di game-game saja. Dan kekuatan itu bukan didappat dari makan bayam seperti Popeye, tapi dengan menempa tubuh lebih keras lagi.
Aku sampai mimisan dan pusing hampir pingsan, mungkin karena aku melewati batas. Tapi rasa sakit itu hanya dirasakan oleh tubuh, sementara pikiranku terkaget oleh perubahan dalam kehidupan. Masih terjadi saat SMA, beberapa cewek yang dianggap keren di sekolah ingin menjadi temanku, semua cowok bahkan mahasiswa-mahasiswa dari Jakarta rasanya begitu mudahnya untuk mengungkapkan cinta kepadaku. Tapi aku tidak menanggapinterlalu serius, aku hanya terkejut bagaimana sepotong tubuh ini bisa membuat perubahan begitu dahsyatnya ketika tubuh itu berubah bentuk.

Berangkat ke Jakarta untuk kuliah, aku siap jadi anak kos. Tapi yang aku tidak menyangka adalah, orangtuaku tidak (belum) sadar perbedaan biaya hidup di Malang dengan di Jakarta. Uang yang dikirim orangtuaku per bulan hanya cukup untuk makan sedikit, dibagi dengan uang transportasi dan biaya warnet per jam untuk mengerjakan tugas (saat itu aku belum punya laptop) dan biaya print, sehingga aku harus memilih antara berjalan kaki yang jauh (untuk meminimalkan biaya transport) atau mengurangi makanku yang sudah sedikit.

Aku juga harus beradaptasi dengan panasnya Jakarta. Tubuhku ingat rasanya berjalan kaki yang jauuuuuh....sekali sambil menunduk; karena silau dan sakit kepala. Lebih dari semua sensasi, aku paling ingat rasanya lapar. Lapar yang harus ditelan, bukan untuk menunggu beberapa jam lagi hingga waktunya makan. Lapar yang akan hilang sendiri karena mati rasa.
Aku nggak sampai hati untuk bilang pada orangtuaku bahwa uang segitu nggak cukup di Jakarta. Ketika ada teman yang SMS, "Ke kosan gue deh, gue lagi masak nasi sama kornet. Gue ngeri lo pingsan di kosan kalo cuma makan bakwan sebiji gitu" itu rasanya seperti sahabat saudari sehidup semati!!!
Memang ini adalah masa-masa yang ekstrim, bahkan aku sampai bantuin syuting2an para senior hanya untuk makan gratis 2 kali sehari.Walau aku punya banyak saudara di Jakarta, Ibuku selalu mengatakan bahwa meminta itu adalah cara terendah. Selama masih ada cara lain (yang halal), hindari meminta. Aku tidak merasa miskin. Mana ada orang miskin berkuliah di jurusan film, punya laptop (kemudian dikirim dari Malang), dan.. ah pokoknya aku memang kelaparan, tapi tidak miskin. Aku tidak punya uang, tapi aku kaya.

Apakah dalam keadaan kelaparan aku sudah tidak mengkhawatirkan bentuk tubuh? Masih. Aku nggak pernah merasa kurus walaupun semua orang bilang aku kurus banget. Aku masih sering memperhatikan setiap inci tubuhku di depan kaca, dan aku melihat gumpalan kulit yang longgar. Di mana-mana!
Baru semester 2, umur 19 tahun, aku kerja jadi penulis skenario sinetron kejar tayang.Mengerjakan sinetron kejar tayang ini berarti menginap sebulan di rumah chief skenario, makan terjamin, tapi harus begadang tiap malam. Aku ingat rasanya benar-benar tertidur di atas keyboard laptop, sehingga waktu terbangun aku harus menghapus tulisan huruf yang panjaaaaaaaaaaaaaaang sekali

Comments

Popular posts from this blog

It Has Been A Lot!

Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...

What is happiness? It sounds like a snack.

I would, like usually, open this post by saying "Things are crazy". Yes, I don't know are things really crazy or is it just me. I think it's the latter. Life appears as surprises to me. And I act like a door, opening this tunnel, closing another one. I don't feel dull, and I can't say my days have been dull for they are full with challenges. But I have been so alone. This also sounds weird. Since when that I'm not alone? I always pull myself back from any social event. I hang out alone. I guess the last time I had a good time outside the house/office/campus with another human being was the last Saturday in January, so it's a month ago. It is true that if I just ask, I will get people willing to go with me. But I am the pickiest picky pick ever because most of the times when I don't pick, I get bored with dull conversations, or a view of someone watching his/her phone like there's nothing else to see. So all this time I hang out alone. Mos...

sehat

Aku masih sakit, nih, blog.. padahal besok udah hari Kamis, harus bekerja di Pingu's. Semoga hari ini sembuh dong, yuk yaaaa...yuuk cepet sehat. Cepet mandi terus ke kampus. Lah kapan istirahatnya? Akakakaka... harus mengejar Armantono nih ik. Come on warrior!!!!!!! Ik merasa hampir gilaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaghhhhhhhhhhhhhhh lontooooooooooooong please, please, ik mau lulus semester ini. Please sehat wal afiat, dan sexy walafeksi... (gila)