kini kenangan terburuk pun tidak menimbulkan dorongan untuk merusak sesuatu.
ahaha, aku merasa seperti pemenang. ya, ya, seperti perkiraanmu, selama ini aku berperang dengannya.
berlatih bertahun-tahun bagaimana cara mengendalikan dorongan dari dalam pipa nafas untuk merobek pipa tubuh yang lain.
dalam kepercayaan pribadiku, tubuh itu sekurang-kurangnya ada dua: tubuh fisik, dan tubuh ingatan. tubuh ingatan ini, jangan sampai membuat kerusakan. tapi ia pasti berbuat demikian. yang bisa kulakukan adalah berusaha menjadi engineer bagi tubuh ini.
kuliah engineering tubuh memori di universitas buatanku sendiri ini, tidak mudah, dan tidak ada selesainya memang, minimal aku tahu aku sudah bukan mahasiswa semester satu. aku sudah bisa mengendalikan beberapa jenis kebocoran dan radang.
kau tahu nggak,
hampir setiap mimpiku mengambil setting di rumahku di Malang,
dan aku akan baru menyadari setting itu ketika bangun.
kadang aku ingin mengejek dan menertawai kepalaku,
storage lokasi dalam kepalaku. kok nggak ada ide lain? lokasinya itu-itu lagi.
http://www.youtube.com/watch?v=3Eoig_s8Rp4
kenangan terakhir adalah minum berbotol-botol bir sebagai acara perpisahan terakhir
dengan seorang laki-laki. kami bahkan pindah tempat tiga kali.
mengobrol dan cekikikan, sambil merasakan cekikan di tenggorokan dan tonjokan marah di dada.
semua perasaan terburuk yang bisa disembunyikan dengan tawa dan tipsy, demi merayakan momen yang mungkin tak akan terulang lagi.
acara minum bir ini sempat membuatku tidak mau ke Malang lagi. buat apa kota ini ada kalau aku tidak boleh lagi bertemu orang kesayanganku?
tapi akhirnya aku ke Malang lagi setelah menempa diri dengan sesuatu yang ekstrim,
ngancur-ngancurin badan dengan pelatih tangan besi :D
dan aku pergi ke tempat di mana kami duduk membuka botol bir pertama.
kutarik nafas, dan niat untuk memaafkan kenangan itu. hadapi, jangan lari.
itu pelajaran pertama yang harus kamu kuasai dalam kuliah engineering ini.
ketika di ujung kebocoran pipa alias hampir memutuskan untuk kabur saja, pindah tempat,
aku memutuskan untuk menari.
ternyata menari seperti menulis,
merobek borok, dan menjahitnya hingga rapi tertutup.
jika ketika menulis kamu memanggil kembali segala ingatan rasa,bau,ruang, dan segala sensasi yang hadir pada fenomena yang sedang kamu tulis, begitu juga yang kulakukan ketika menari.
ahaha, aku merasa seperti pemenang. ya, ya, seperti perkiraanmu, selama ini aku berperang dengannya.
berlatih bertahun-tahun bagaimana cara mengendalikan dorongan dari dalam pipa nafas untuk merobek pipa tubuh yang lain.
dalam kepercayaan pribadiku, tubuh itu sekurang-kurangnya ada dua: tubuh fisik, dan tubuh ingatan. tubuh ingatan ini, jangan sampai membuat kerusakan. tapi ia pasti berbuat demikian. yang bisa kulakukan adalah berusaha menjadi engineer bagi tubuh ini.
kuliah engineering tubuh memori di universitas buatanku sendiri ini, tidak mudah, dan tidak ada selesainya memang, minimal aku tahu aku sudah bukan mahasiswa semester satu. aku sudah bisa mengendalikan beberapa jenis kebocoran dan radang.
kau tahu nggak,
hampir setiap mimpiku mengambil setting di rumahku di Malang,
dan aku akan baru menyadari setting itu ketika bangun.
kadang aku ingin mengejek dan menertawai kepalaku,
storage lokasi dalam kepalaku. kok nggak ada ide lain? lokasinya itu-itu lagi.
http://www.youtube.com/watch?v=3Eoig_s8Rp4
kenangan terakhir adalah minum berbotol-botol bir sebagai acara perpisahan terakhir
dengan seorang laki-laki. kami bahkan pindah tempat tiga kali.
mengobrol dan cekikikan, sambil merasakan cekikan di tenggorokan dan tonjokan marah di dada.
semua perasaan terburuk yang bisa disembunyikan dengan tawa dan tipsy, demi merayakan momen yang mungkin tak akan terulang lagi.
acara minum bir ini sempat membuatku tidak mau ke Malang lagi. buat apa kota ini ada kalau aku tidak boleh lagi bertemu orang kesayanganku?
tapi akhirnya aku ke Malang lagi setelah menempa diri dengan sesuatu yang ekstrim,
ngancur-ngancurin badan dengan pelatih tangan besi :D
dan aku pergi ke tempat di mana kami duduk membuka botol bir pertama.
kutarik nafas, dan niat untuk memaafkan kenangan itu. hadapi, jangan lari.
itu pelajaran pertama yang harus kamu kuasai dalam kuliah engineering ini.
ketika di ujung kebocoran pipa alias hampir memutuskan untuk kabur saja, pindah tempat,
aku memutuskan untuk menari.
ternyata menari seperti menulis,
merobek borok, dan menjahitnya hingga rapi tertutup.
jika ketika menulis kamu memanggil kembali segala ingatan rasa,bau,ruang, dan segala sensasi yang hadir pada fenomena yang sedang kamu tulis, begitu juga yang kulakukan ketika menari.
Comments