ombak. perahu. susunan bata. rumah, dan tulisan'dulu'.
gunung. sawah. jalan menanjak. rumah, dan ikan hiu.
jika memori adalah sebuah tubuh, ia pasti tinggi menjulang. badannya panjang merangkai masa.
ah, belum tentu. mungkin juga pendek gendut, jika keping-keping gambar berserak dan bertumpuk, membusuk namun tetap ada.
putri memintaku menggambar elemen-elemen yang menurutku adalah kepingan personal dari masa lalunya,
dan dalam kesempatan yang lain ia memintaku menggambar di kertas-kertas putih yang disusun seperti puzzle.
ah, memori.
masa lalu itu, mungkin sebuah ilusi. karena ia tak lagi nyata dan tak bisa dipertanggungjawabkan. namun memori itu nyata, walau tak bisa dipegang layaknya jemari.
aku pernah jadi seseorang religius, yang suka pergi ke masa lalu dan membangun kuil melakukan ritual terhadap kenangan-kenangan. begitu kira-kira seperti yang digambarkan sebuah tulisan yang bermaksud mendeskripsikan orang yang sedih dan bagaimana cara mengentaskan diri dari kesedihan.
tapi, dulu, saat aku melakukan itu,
itu bukan untuk menenggelamkan diri dalam kedukaan. aku hanya sedang memahat tubuh memoriku agar tinggi menjulang, langsing, indah. kenangan buruk maupun baik, tersusun indah, jadi kerangka yang membentuk: aku.
siapakah aku?
apakah aku kenanganku? apakah aku kumpulan reaksi atau perlakuan orang terhadapku?
lihatlah, tidak, tidak,
rasakanlah, sesuatu yang kuncup-mekar di dadamu,
sebuah tangan mungil yang jahil ingin mencekikmu dari dalam tenggorokan,
itu memori! itu!
aku pernah punya kakak.
aku pernah punya sahabat.
aku pernah punya ibu.
aku pernah
merasa
dicintai.
gunung. sawah. jalan menanjak. rumah, dan ikan hiu.
jika memori adalah sebuah tubuh, ia pasti tinggi menjulang. badannya panjang merangkai masa.
ah, belum tentu. mungkin juga pendek gendut, jika keping-keping gambar berserak dan bertumpuk, membusuk namun tetap ada.
putri memintaku menggambar elemen-elemen yang menurutku adalah kepingan personal dari masa lalunya,
dan dalam kesempatan yang lain ia memintaku menggambar di kertas-kertas putih yang disusun seperti puzzle.
ah, memori.
masa lalu itu, mungkin sebuah ilusi. karena ia tak lagi nyata dan tak bisa dipertanggungjawabkan. namun memori itu nyata, walau tak bisa dipegang layaknya jemari.
aku pernah jadi seseorang religius, yang suka pergi ke masa lalu dan membangun kuil melakukan ritual terhadap kenangan-kenangan. begitu kira-kira seperti yang digambarkan sebuah tulisan yang bermaksud mendeskripsikan orang yang sedih dan bagaimana cara mengentaskan diri dari kesedihan.
tapi, dulu, saat aku melakukan itu,
itu bukan untuk menenggelamkan diri dalam kedukaan. aku hanya sedang memahat tubuh memoriku agar tinggi menjulang, langsing, indah. kenangan buruk maupun baik, tersusun indah, jadi kerangka yang membentuk: aku.
siapakah aku?
apakah aku kenanganku? apakah aku kumpulan reaksi atau perlakuan orang terhadapku?
lihatlah, tidak, tidak,
rasakanlah, sesuatu yang kuncup-mekar di dadamu,
sebuah tangan mungil yang jahil ingin mencekikmu dari dalam tenggorokan,
itu memori! itu!
aku pernah punya kakak.
aku pernah punya sahabat.
aku pernah punya ibu.
aku pernah
merasa
dicintai.
Comments