Skip to main content

jika memori adalah sebuah badan

hidup itu pendek, semua setuju.
jadi kugunakan kata memori, mungkin bisa lebih tepat.
aku bersandar pada memoriku tentang hidup yang aku jalani.

kontemplasi ini muncul malam ini di dalam angkot 08 menuju rumah dari belanja sayur di Giant (duh, penting ya informasi ini?)

mungkin pemikiran ini muncul karena melihat jalanan yang gelap, walau motor-motor ngebut sliweran.

hidupku ini berpindah-pindah, sehingga perubahannya terasa tebal dan tidak bisa tidak disadari. rasanya bagaikan operasi tanpa obat bius. operasi menjadi manusia yang baru. aku tau banyak orang yang berubah karena pengaruh pergaulan. yang kuceritakan di sini bukan seperti itu. aku berubah karena tempat tinggal baru, cara hidup yang baru, dan maki-makian yang memaksaku memilih antara kalah dan menang.

tapi, seperti slogan yang mungkin sudah ditato di dagingku sejak aku lahir,
"tidak ada satu hal pun dalam hidup ini yang tak bisa ditertawakan.."

malang,24 Mei
aku tidak suka pesta. tidak suka basa-basi, ritual, dan kemudian membersihkan sampah yang tidak perlu. lebih baik mabuk, atau bercengkerama intim dengan satu-dua kawan. pesta penuh dengan tawa yang pura-pura. sapa yang terpaksa.

saat sd aku pernah pindah tempat tinggal, dari rumah ke hotel, karena rumah direnovasi. dua tahun tinggal di hotel, aku menghadapi perubahan cara hidup mulai umur 8 tahun. aku terpaksa berpisah dengan Uki, sahabatku yang biasanya selalu pulang ke rumahku untuk main, makan siang, mandi sore, baru pulang ke rumahnya dengan paksaan ibunya. tahun pertama di hotel sangat berat. aku kehilangan teman bermain, dan harus bangun lebih pagi karena jarak ke sekolah pun menjadi jauh.

saat smp aku pindah sekolah, atas usahaku sendiri karena aku merasa sekolahku kelas 1 itu tidak bermutu, pilihan mama yang kemakan bacot kepala sekolahnya. kelas 2 smp sebagai anak baru aku langsung "ditarik" ke geng cewek-cewek dancer tapi aku nggak diikutsertakan nari karena kegendutan menurut mereka. aahahahaha. aku ingat hanging out sama mereka cuma satu dua kali karena aku langsung malas, merasa membuang-buang waktu saat bersama mereka. ketawa yang pura-pura. aku ganti teman-teman. elia, kanivia, sri, nurul ulum (nama ini harus ditulis lengkap siapa tau orangnya mampir ke blog ini). yang paling akrab dengan elia, pun sekarang sudah hilang kontak. aku dan elia sering nongkrong ke kedai "warna warni hiii" di seberang stasiun k.a malang, minum es dan makan pangsit mi sepulang sekolah. kami memilih jalan kaki daripada naik mikrolet, karena kota malang itu indah.kalau rame-rame dengan kanivia dan sri, kami nongkrong di pembatas jalan sebelah kedai Semeru, makan roti goreng yang kabarnya pakai minyak babi. atau ngobrol ngalor ngidul di kamar kanivia dan makan nasi goreng sepiring berempat. di ujung memori tentang masa ini, adalah aku mengkoreografi beberapa temannya elia. mereka nari di panggung. aku nonton dengan bangga dan bertanya kapan aku bisa nari di atas panggung seperti itu. o ya, akhirnya aku naik panggung juga, tapi nyanyi sambil main keyboard. bawain lagunya Jewel "Foolish Game". anjrit galau abis... yang penting banyak yang tepuk tangan dan yang penting dapet panggung yeeeyy!!!

kelas 3 smp aku intens main dengan sahabat kecilku Uki, dan teman satu area rumah yang kemudian jadi karib, Nana. ini adalah masa yang hebat melekat dalam memori, mungkin karena aku menjadi diriku sendiri sepenuh-penuhnya. dengan Uki kerjaan kami adalah main PS di rumahku. kami begadang main Fisherman's Bait II, kalau pulang sekolah main yang grafiknya lebih warna-warni, CTR (Crash Team Racing). O ya, tidak boleh absen disebut, sambil makan donat kampung. satu donat harganya Rp300, jadi beli 3 donat Rp900. akhirnya pak donat naikin harga jadi Rp350. oh, donat kampung, dengan krim putih yang dioles sembarangan dan taburan meises warna-warni yang KAMPUNGAN SEKALI.
dengan Nana kami punya kesukaan yang sama, nonton band. karena semua konser diadakan di jakarta, kami sudah bersyukur bisa nonton festival-festival musik gratisan yang diadakan masbro-masbro kuliahan. unmer pariwisata, unmer dieng, universitas negri malang, unibraw, dan itn adalah kampus-kampus yang paling sering kami datangi festival band-nya. membuat diri senyaman mungkin, kostum "default" kami adalah celana pendek dan kaus oblong. tidak lupa bawa uang dua-tiga ribu untuk beli es campur... band lokal yang sering di-cover oleh peserta saat itu adalah Jamrud dan band internasionalnya Muse, Eagles, dan Santana. Kalau ada yang bawain U2 kami jatuh cinta. Lagu "Stuck In A Moment" jadi favoritku waktu kelas 3 SMP, dan Nana kelas 2 SMA. Nana kadang-kadang diketawain teman-temannya karena bergaul kok sama anak SMP. Aku juga sering dipertanyakan, kok nggak ke Dieng Plaza yang saat itu sedang hits, malah ke lapangan-lapangan universitas. oh ya untung ingat, SOB Dieng juga sesekali mengadakan festival band.
kakak ku saat itu aktif main band, tapi dia band perdugeman. radio favoritku saat itu Bhiga FM, radionya Unmer Dieng. aku gebet-gebetan sama penyiarnya. kadang-kadang dia memutarkan lagu favoritku dan menyebutkan namaku. aaahhhhhhh romantiiiis.
SUM 41, Papa Roach, Puddle Of Mud, System Of A Down, Lifehouse, dan  Red Hot Chilli Peppers adalah band wajib untuk teriak-teriak di kamar bersama Nana.

SMA. Kelas 1 aku di-bully satu kelas. Aku ganti lingkungan, dari sekolah normal ke sekolah elit yang isinya anak-anak pengusaha terkaya di Malang, dan anak mafia. lagu-lagu mereka adalah jay chou, guang liang, pokoknya sorry, mengingat sekarang aja aku mau muntah dan ingin men-skip bagian ini. di akhir acara aku memenangkan perang, si pem-bully dikeluarkan dari sekolah karena berantem terus sama aku. terus mereka-mereka yang tadinya ikut mem-bully ingin jadi temanku, tentu saja kutolak. temanku tetap hanya Stephanie Darda Susilowati si anak banyuwangi yang kacamatanya tebal dan nggak pernah mau ngasih contekan. masa-masa per-bullyan membuatku nangis kalau ada lagu "Superman"nya Five For Fighting di radio. Stephanie Darda Susilowati ini diancam di-bully juga karena tetap berteman dengaku, but she took the risk. fuck, stephanie that was awesome, thank you.

Setelah memenangkan per-bullyan, adalah masa ke-hectic-an untuk kenaikan kelas. untuk persiapan ujian kenaikan dari kelas 1 ke kelas 2 saja kami belajarnya seperti ujian kelulusan. karena di sekolah ini tidak ada toleransi nilai, dan tinggal kelas adalah hal biasa. aku ingat tas yang hampir robek karena berjejal buku, ditambah album ke-2 Avril Lavigne "Under My Skin", dan seorang teman sekelas bernama Fensisca Claudia Joysterifana yang mengikutiku kemana-mana. Dia ingin pulang sekolah ke rumahku, atau memintaku menemaninya belanja kosmetik di RATU Swalayan. Atau belanja baju gaul di Dieng Plaza. Dia nggak kena demam "takut nggak naik kelas" di tahun pertama SMA ini. Jadi saat itu aku punya dua sahabat, Stephanie dan Fensisca, tapi mereka tidak pernah bisa bersatu.

Kalau kamu au bicara tentang hidup sendiri, living alone, aku sudah melakukannya pertama kali saat kelas 2 SMA. Alasan orang tuaku katanya biar aku belajar lebih giat (aku dikoskan dengan Stephanie dan teman-temannya yang jurusan IPA). Padahal aku tau alasan sebenarnya adalah karena rumahku itu mau dijual, untuk bayar hutang ayah setelah usahanya bangkrut karena kena tipu.

Comments

Popular posts from this blog

It Has Been A Lot!

Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...

What is happiness? It sounds like a snack.

I would, like usually, open this post by saying "Things are crazy". Yes, I don't know are things really crazy or is it just me. I think it's the latter. Life appears as surprises to me. And I act like a door, opening this tunnel, closing another one. I don't feel dull, and I can't say my days have been dull for they are full with challenges. But I have been so alone. This also sounds weird. Since when that I'm not alone? I always pull myself back from any social event. I hang out alone. I guess the last time I had a good time outside the house/office/campus with another human being was the last Saturday in January, so it's a month ago. It is true that if I just ask, I will get people willing to go with me. But I am the pickiest picky pick ever because most of the times when I don't pick, I get bored with dull conversations, or a view of someone watching his/her phone like there's nothing else to see. So all this time I hang out alone. Mos...

sehat

Aku masih sakit, nih, blog.. padahal besok udah hari Kamis, harus bekerja di Pingu's. Semoga hari ini sembuh dong, yuk yaaaa...yuuk cepet sehat. Cepet mandi terus ke kampus. Lah kapan istirahatnya? Akakakaka... harus mengejar Armantono nih ik. Come on warrior!!!!!!! Ik merasa hampir gilaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaghhhhhhhhhhhhhhh lontooooooooooooong please, please, ik mau lulus semester ini. Please sehat wal afiat, dan sexy walafeksi... (gila)