Skip to main content

suitcase: social suicide with great artists in candi ratu boko

20 Oktober 2012, duduk di restaurant bandara yang nggak ada namanya. Menerima pesan-pesan di Blackberry untuk "cepat pulang" , padahal belum pergi. Ya, hari itu aku menjawab tantangan yang dilempar-balik oleh alam padaku: "Katanya pengen banget ke Candi Ratu Boko?"

polimoli.com , anibeeTV, dan latihan untuk perform awal Desember semua di-pending di Jakarta, untuk 12 hari Candi Ratu Boko.

Nggak butuh waktu lama untuk mendarat di Jogja. Jogja dan Jakarta, hampir seperti dua benua yang terpisah. Aku masih terkagum bagaimana dalam waktu satu jam teknologi bisa membawaku pada sebuah perubahan. Dalam waktu dua jam, aku hanya bisa pindah tempat dari Rempoa ke Cikini, tapi dalam waktu yang lebih singkat: Jakarta-Jogja. Terlebih lagi, dengan tiket gratis.

Sampai di Bandara yang jadi satu dengan stasiun kereta, aku terima bbm dari Yola: "kei, skip hotel. langsung ke Ratu Boko ya" tanpa ada supir yang menjemput. Ow, the adventure begins early. Dari Bandara, mobil sewaan ini jalan lurus...saja. Di lampu merah kami disambut pengamen waria yang full-make up dan kostum warung miras di sinetron Hidayah. Melewati Candi Prambanan, mobil belok ke kanan dan jalan mulai menanjak. Di jalan yang sudah ber-aspal, ada tulisan besar "ALONZ MAS" yang membuatku nyengir. Makin naik, ada tulisan lagi "ALON ISO ORA!" Supir yang mengantar berpesan sepanjang perjalanan, "Mbak, nanti di sana jangan teriak-teriak ya." "Hahaha, ngapain juga Pak saya teriak-teriak?" "Gini mbak, soalnya bisa dibilang...tempat itu masih 'anget', wingit,"

"Mbak agamanya apa?"

"Islam."

"Di sana jin itu masih banyak yang ngasih makan, mbak. Banyak yang semedi dan naruh sajen."

Kok dia pake nanya agamaku apa dulu? Mungkin kalau aku bilang agamaku kejawen dia akan menghapus kalimat 'jin dikasih makan' Hahaha! I appreciate your caring advice, driver.

Sampai di Candi Ratu Boko, hal pertama yang dilakukan adalah nitip koper di pos satpam. Yes. This is like you came to a hideous cave bringing your heavy suitcase.

I like this feeling of being dynamic. Change happens rapidly. From Jakarta, landed, trip to the peak of a hill and go bloody hike that stone stairs! Pemandangan di atas sangat memuaskan mata. Inilah Candi Ratu Boko, tanah lapang dan batu-batu yang membentuk pelataran. Tidak ada sudut lancip menjulang, tak ada patung yang dikultuskan, dan aku disambut dengan pelukan Sardono W Kusumo, "Keren...keren" katanya, dia menganggap keputusanku untuk terbang dari Jakarta dan nyebur di project nya ini keren.

Hari pertama itu, aku berkenalan dengan Gita, Sekar, dan Mila. Nggak butuh waktu panjang dan aku langsung merasa seperti di kampung halaman. Bukan karena bahasa Jawa, tapi karena ramahnya mereka itu, seperti teman-teman mainku di kampung. Senyum yang sederhana, kalimat-kalimat yang apa adanya. Kenalan juga dengan Mas Memet, komposer yang sedang studi untuk gelar doktoral di bidang musik. "Kamu penari dari Jakarta?" tanyanya. Selalu, pertanyaan yang dilontarkan alam padaku, saat aku sepantasnya menjawab, "Saya penulis progress report, di sini." dan tambahan, "Alhamdulillah senangnya dikira penari! Hahahahaha!" Senyum, tawa, dan percik-percik hubungan antar manusia lelehnya cepat di tempat ini.

Sardono, Ragil, Yola, aku, dan tiga penari ini jalan menelusur ke Timur, melalui jalan naik dan turun. Jangan kau bayangkan Prambanan atau Borobudur, ini lanskap yang tidak mewah, ini layaknya reruntuhan dimana kekaguman-kekagumanmu akan datang di waktu yang tak terduga. Seorang arkeolog akan senang berada di sini. Setelah perjalanan yang cukup jauh, bahkan melewati warung kopi, masuk lewat stone arch mini, aku dan ketiga penari melongo melihat sebuah panggung dari batu dengan anak tangga di bawahnya. Aku merinding membayangkan pertunjukkan tari dari abad yang sangat lampau. "Assalamualaikum", ucapku dalam hati. Kami menaiki anak tangga. "Nuwun sewu," kudengar pelan seorang penari berbisik, dan mereka memendekkan posisi untuk satu tangannya menyapu anak tangga terakhir sebelum naik ke panggung datar.

Duduk di atas pelataran itu, kamu bisa melihat kolam-kolam batu yang diukir di bawah sana, airnya hijau.

Kami mulai berpencar. Ada yang berbaring tiduran, aku turun untuk melihat tekstur dan mengira-ngira kedalamannya. Berjalan ke arah barat, dipisahkan oleh tembok, ada kompleks kolam lagi, tapi berbentuk persegi. Juga masih ada airnya. Kembali ke kolam bulat, aku menengadah karena sayup mendengar alunan

there's a possibility
there's a possibility,
all that I had
was all I'm gonna get...

Itulah kali pertama aku melihat sebuah tarian di sini, di hari pertama. Mila Rosinta, menyuguhkan gerakan lambat di ujung panggung Candi Pelataran, mengulur rambut panjangnya seperti pedang.

Saat aku sampai di atas, ia menyudahi tariannya. Ia melihatku tersenyum. "Aku lagi merasakan tempat ini," ucapnya. I feel you, girl. I danced on busway station bridge.  Kami menghabiskan sore di tanah lapang dekat gapura utama. Senja menggelap, kami tetap tak beranjak. Duduk melingkar sambil bersenda gurau. First day. Strangers. In the dark. Aku lelah, dan tidak ada tanda-tanda Mas Don akan mengakhiri sesi eksplorasi tempat dan kami bisa istirahat di hotel. Dia masih asik ngobrol dengan Pak Hendro Martono. Aku berbaring saja di rumput. Hmm, nyaman. Punggungku hangat. "Kok tanahnya anget ya?" "Iiih serem!" jawab mereka.Aku terus berbaring, dan di atas tampak bertebar bintang dan malu-malu bulan sabit ngintip. I never stayed this long in a temple. Temple used to be a leisure visit in groups of school kids. Two hours is more than enough. Take pictures and leave bringing nothing but souvenirs and empty mind. But tonight I have a feeling it's gonna be home, here.

Akhirnya Mas Don ngajak kami beranjak. Kami pun menenteng tas, membereskan barang-barang, dan memastikan nggak ada sampah yang dibiarkan mengotori rumput. Berjalan ke arah gapura, tiba-tiba Mas Don meminta kami berhenti di anak-anak tangga. Entah apa yang dia katakan aku nggak dengar, tapi kami duduk dan tidak berbicara. Tidak ada satupun yang berbicara atau main handphone.

Gelap. Tidak ada pemandangan selain gelap. Namun hingar bingar jangkrik, burung, dan binatang-binatang yang tak ku tahu namanya menyadarkanku bahwa inilah saatnya mata istirahat, dan biarkan telinga yang melihat. Kami duduk berdekatan, namun masing-masing menikmati diri. Ini adalah kemewahan yang nggak bisa dibeli dengan uang. Berada bersama orang-orang yang tau caranya menikmati malam, sungguh hari pertama yang memuaskan.

Kekaguman berikutnya datang ketika jam enam pagi lebih sekian, aku mendengar gaung suara manusia yang bergema begitu berani namun juga dalam. Suara itu seperti mantra dengan nada yang datar, tanpa arti, hanya seperti oioioioioioio.... diiringi suara alat musik tiup seperti seruling. Tapi aku kenal bunyi seruling, ini pasti bukan seruling. suara ini pun kuat, seolah memanggil kobra dari dataran tinggi Tibet.

Kedua sumber suara ini kutemukan di dalam cekungan yang menyerupai parit di sebelah utara gapura utama Candi Ratu Boko. Tiga orang yang belum kukenal namanya, duduk di situ. Yang satu menggaungkan suara dan yang dua lagi memainkan pupui.

Di sini aku tau, bahwa bukan hanya penari yang melakukan eksplorasi gerak di kegiatan dua belas hari ini, tapi semua yang terlibat, dari berbagai disiplin.

Hari-hari berikutnya, kesyahduan makin luntur dengan datangnya makin banyak partisipan, dengan berbagai macam karakter. Tapi yang penting adalah menghidupkan kesunyian pribadi, berusaha tidak teriritasi dengan berisiknya orang dan suara pesawat yang melintasi langit Ratu Boko setiap setengah jam, hingga meningkat frekuensinya jadi setiap 15 menit (swear diewer ewer)

Comments

Popular posts from this blog

It Has Been A Lot!

Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...

What is happiness? It sounds like a snack.

I would, like usually, open this post by saying "Things are crazy". Yes, I don't know are things really crazy or is it just me. I think it's the latter. Life appears as surprises to me. And I act like a door, opening this tunnel, closing another one. I don't feel dull, and I can't say my days have been dull for they are full with challenges. But I have been so alone. This also sounds weird. Since when that I'm not alone? I always pull myself back from any social event. I hang out alone. I guess the last time I had a good time outside the house/office/campus with another human being was the last Saturday in January, so it's a month ago. It is true that if I just ask, I will get people willing to go with me. But I am the pickiest picky pick ever because most of the times when I don't pick, I get bored with dull conversations, or a view of someone watching his/her phone like there's nothing else to see. So all this time I hang out alone. Mos...

sehat

Aku masih sakit, nih, blog.. padahal besok udah hari Kamis, harus bekerja di Pingu's. Semoga hari ini sembuh dong, yuk yaaaa...yuuk cepet sehat. Cepet mandi terus ke kampus. Lah kapan istirahatnya? Akakakaka... harus mengejar Armantono nih ik. Come on warrior!!!!!!! Ik merasa hampir gilaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaghhhhhhhhhhhhhhh lontooooooooooooong please, please, ik mau lulus semester ini. Please sehat wal afiat, dan sexy walafeksi... (gila)