Skip to main content

this is it... black coffee!

aku sudah merencanakan tulisan ini sejak lama, aku ingin menceritakan dari awal, dan segala tetek bengek tentang keisha dan menari. untuk lebih efektif, kita cerita keisha yang udah gede aja yah... (menyadari potensi mbeliut-liut dalam bercerita)

jadi, basically, tahun 2010 adalah tahun yang hebat untukku, walaupun ada masa depresi, tapi kreativitasku memuncak tahun itu, dan aku bertemu orang-orang hebat, seperti Seno Gumira Ajidarma. Saat itu aku punya pekerjaan, guru bahasa inggris di COME, Bendungan Hilir. Haahahaha ajegilee gue cuma dibayar Rp25.000 per session. Itu aku sambil kuliah. Jadi lagi makan siang, nongkrong di warku, trus pamitan sama teman-teman, untuk rushing ke Bendungan Hilir.

Pada tahun 2010 ini, aku sudah merasakan dorongan untuk menari. Untuk benar-benar mendapat bimbingan dalam menari. Sudah tidak terhitung berapa kali di tengah malam aku nari-nari sendiri di ruang TV di rumah yang sempit di Bintaro. Satu-satunya tempat nari yang aku tau, yang sering kulihat adalah Saraswati, yang mengajar tari bali, berlokasi di depan TIM 21, sekarang XXI. Udah gitu, yang aku lihat, yang les anak-anak kecil semua, paling gede ya kira-kira kelas 6 SD. Waduh... gimana ya, hajar bleh aja. Aku daftar, Rp400.000 itu sudah termasuk uang pendaftaran, uang bulanan pertama, kaus, kain, stagen, dan piring untuk nari pendet. Awesome!!!!! I was sooo excited! Jadi per bulannya Rp250.000, dua kali seminggu. Minggu pagi jam 9 dan Jumat sore jam 4. Awesome, awesome, awesome. Jadi hari Minggu, dari Bintaro, aku datang ke TIM. Dan... tereerrettt.... aku nari bersama anak-anak TK. Haahahahaha!! Kan langsung masuk tarian pertama alias Level 1, yaitu Pendet. Oh em gee, anak-anak TK ini sangat lucu, menggemaskan. Dan ibu-ibu mereka yang nunggu pun semua melihat ke aku. Karena aku gede sendiri. Guru-gurunya seumuranku. Waktu membenarkan posisi badan/ tanganku, mbak-mbak guru ini bilang "maaf ya mbak" and in my mind I was like, "ooh shit, you don't have to say that. just treat me like other students."

Tari Pendet itu ada pemanasannya, and it was like 30-40 minutes, serius, melelahkan. menguras tenaga, dan sakiiitt.. wadaaaww!! urat-urat sikilku kepenek bokong. Trus ada gerakan duduk-menduduki urat kaki itu lamaaa...banget sambil badan serong ke kanan, ke kiri, ohmaygatt aku sangat tersiksa dan aku pikir "Oh Tuhan, ini sakit banget, kenapa begini amat yah sakitnya? Aku pernah nari tradisional, tari jawa, nggak gini-gini amat." Beberapa kali ku angkat pantatku, supaya urat kaki istirahat hahahaha apalagi yang bagian egol alias goyang pantat ke kanan ke kiri sambil kakinya mendet dan jalan berputar, ASTAGHFIRULLAHALADZIM... Keringatku ngucur kayak orang keramas. Aku pulang sempoyongan.. *blog, sorry boleh ralat ga? awal aku nari di Saraswati ini tahun 2009, sebelum akhirnya quit tahun 2010* *I feel so bad about making mistake chronologically* Oke lanjut... aku sampe mikir gini malamnya setelah pertemuan pertama "Apa bener gue ya... daftar tari pendet ini? Ini sangat menyakitkan. Tapi gue udah bayar... ya udah deh, gue 2 kali dateng lagi aja terus udahan!" Hari Jumat dateng kan tuh.. jam 4 sore jadinya banyak anak kampus bertebaran di TIM dan teman-temanku ketttaawaa liat aku nari sama anak-anak TK. Terserah! Walaupun diketawain temen-temenku yg jaga kineforum, aku mulai menikmati proses latihan... urat kaki yang sakit waktu diduduki aku anggap "anak nakal yang harus dididik" dan pertemuan berikutnya, guruku dengan bahasa bali *yang tidak bisa kutirukan tapi aku ngerti artinya* memujiku, katanya agem ku bagus.Pertemuan-pertemuan berikutnya, aku selalu hadir, walaupun pulang latihan aku pasti teler kayak orang nenggak Chivas Regal sendirian.

Dan sepertinya gara-gara orang2 ngelihat aku, si anak kuliah yang menari bersama anak-anak TK, mulai banyak anak seumuranku yang daftar. Suer aku PEDE itu karena aku. Akhirnya aku nggak gede sendiri, banyak yang ikut, dan hey, aku sudah punya teman sebelum anak-anak besar ini datang. I already made friend with my fellow little dancer. Namanya Firly.

Pokoknya aku happy banget deh di Saraswati ini walaupun tidak ada yang mengajakku ngobrol, tapi kan aku punya teman.. si Firly yang suka nawarin kue ke aku pas jam istirahat. Apalagi, ibu yang jaga buku absen yang dulu judes makin lama dia makin ramah dan dia memegang rambutku, bilang gini, dengan logat Bali yang kental "Rambutnya panjangin, nanti kan mau pentas... biar bisa disambung sama sanggulnya" Aku nih, mendengar kata pentas, sumringah.... bukan, aku bukan banci tampil (ya ga pa-pa juga sih kalo banci tampil) tapi aku punya kerinduan tersendiri yang ga bisa kujelaskan dengan kata-kata tentang PENTAS. Driven dengan kalimat itu, aku pun tidak memotong rambutku lagi dan berlatih makin serius. Di rumah aku latihan, kadang-kadang pake kain. Tanteku yang sempat nonton aku latihan di TIM, dia duduk di mobil pun bilang "Kelihatannya kamu nikmatin banget ya."
Namun akhirnya kesibukan kerja di COME dan tugas menumpuk dari Seno Gumira Ajidarma membuatku berhenti latihan di Saraswati. Bekerja itu kewajiban, begitu pula kelas SGA, dan kelas SGA benar-benar provoking, dan tidak kusangka ia berkontribusi BANYAK dalam kepenulisanku, padahal SKS nya cuma 2 dan cuma seminggu sekali. Berhenti menari membuatku jatuh pada mood-mood depresif, ini tanpa kusadari. Pokoknya mendekati tahun 2011, aku berjanji akan kembali menari, because it makes me happy. I mean, happy like SUPER HAPPY. Jadi aku browsing dance class di Jakarta, dan dari semua pilihan, aku memilih Gigi Art of Dance yang kutemukan lewat website... karena lokasi paling mudah dijangkau. I called, asked the fee, and it was a bit shocking, because the registration fee is 250k and the monthly fee is 300k, so the registration fee feels like a customer-bankrupting action. But because I planned, I saved my money for that, dan liburan ke Malang. Di Malang aku terus menanamkan di kepala, pokoknya rencana satu ini harus terlaksana, awas lo kalo cuma planning doang!

Sebetulnya saat itu aku masih merasa, aku ingin olahraga dengan cara yang fun, makanya aku milih menari. Padahal alasan sesungguhnya adalah I love dancing, what the hell who cares with the calorie burning, it was just a bonus. Lagipula tahun 2010 itu I lose so much weight already, karena kelasnya Seno Gumira hahaha, tapi aku satu-satunya mahasiswa yang dapet A lho... wuiihihihi... yang lain sampe ada yg pingsan dan ada yang masuk rumah sakit tu gara-gara begadang ngerjain tugas Seno.

Balik ke Jakarta, aku ke Gigi, waktu itu nama CS nya Tasya, dan dia cukup mengenal jenis-jenis kelas. Karena CS nya bisa menjelaskan dengan bagus aku jadi makin yakin. Aku tanya apa bedanya hiphop sama R&B, dia bilang hiphop lebih cepat, karena ngerasa nggak sejago itu, aku milih R&B. Sambil mendengarkan si CS ini, aku sambil memandang ke studio yang disekat oleh jendela bening. Guru yang lagi ngajar itu cewek, pendek banget, kayak anak SMP, kulitnya coklat, rambutnya pendek


Comments

Popular posts from this blog

It Has Been A Lot!

Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...

What is happiness? It sounds like a snack.

I would, like usually, open this post by saying "Things are crazy". Yes, I don't know are things really crazy or is it just me. I think it's the latter. Life appears as surprises to me. And I act like a door, opening this tunnel, closing another one. I don't feel dull, and I can't say my days have been dull for they are full with challenges. But I have been so alone. This also sounds weird. Since when that I'm not alone? I always pull myself back from any social event. I hang out alone. I guess the last time I had a good time outside the house/office/campus with another human being was the last Saturday in January, so it's a month ago. It is true that if I just ask, I will get people willing to go with me. But I am the pickiest picky pick ever because most of the times when I don't pick, I get bored with dull conversations, or a view of someone watching his/her phone like there's nothing else to see. So all this time I hang out alone. Mos...

sehat

Aku masih sakit, nih, blog.. padahal besok udah hari Kamis, harus bekerja di Pingu's. Semoga hari ini sembuh dong, yuk yaaaa...yuuk cepet sehat. Cepet mandi terus ke kampus. Lah kapan istirahatnya? Akakakaka... harus mengejar Armantono nih ik. Come on warrior!!!!!!! Ik merasa hampir gilaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaghhhhhhhhhhhhhhh lontooooooooooooong please, please, ik mau lulus semester ini. Please sehat wal afiat, dan sexy walafeksi... (gila)