Seberapa sering kamu menghabiskan waktu bersama sepatumu?
Bagi sebagian besar cewek, tas dan sepatu adalah adiksi. Aku sendiri nggak pernah memandang penting kedua hal ini. Aku selalu memilih tas dan sepatu secara fungsional, tentunya dengan warna dan motif yang manis buat mataku. Aku nggak pernah punya banyak sepatu, sejak semua sepatu dan tas kubeli dengan uang sendiri. Satu sepatu kupakai sampai usang bahkan sampai rusak, baru beli lagi... sehingga setiap sepatu tanpa sengaja menunjukkan stage personal. Tahap diri saat dipakainya sepatu itu, panggung dimana aku berpijak. Aku pernah beli sepatu tiga puluh lima ribu rupiah di terminal blok m, sebuah flat shoes motif rajut. Dengan harga semurah itu tentu saja yang dirajut-sulam bukan benang sutra melainkan bahan yang kasar seperti ijuk. Justru karena itu aku beli. Dan yang diharapkan benar-benar terjadi, sepatu itu nggak rusak-rusak sampai 1 tahun. Bahkan sampai aku beli sepatu baru lagi, dia belum rusak, cuma dekil parah, tergeletak bengong di depan pintu kamar kos, heran kenapa di-pensiun-kan.
Setelah aku pacaran aku beli flat shoes dengan warna pink berani, bukan pink perek. Shocking pink kalau kata Arum Daruratri. Sepatu itu harganya lima puluh ribu rupiah, sedang diskon di The Little Things She Need. Kenapa lagi-lagi flatshoes ?
Bagi sebagian besar cewek, tas dan sepatu adalah adiksi. Aku sendiri nggak pernah memandang penting kedua hal ini. Aku selalu memilih tas dan sepatu secara fungsional, tentunya dengan warna dan motif yang manis buat mataku. Aku nggak pernah punya banyak sepatu, sejak semua sepatu dan tas kubeli dengan uang sendiri. Satu sepatu kupakai sampai usang bahkan sampai rusak, baru beli lagi... sehingga setiap sepatu tanpa sengaja menunjukkan stage personal. Tahap diri saat dipakainya sepatu itu, panggung dimana aku berpijak. Aku pernah beli sepatu tiga puluh lima ribu rupiah di terminal blok m, sebuah flat shoes motif rajut. Dengan harga semurah itu tentu saja yang dirajut-sulam bukan benang sutra melainkan bahan yang kasar seperti ijuk. Justru karena itu aku beli. Dan yang diharapkan benar-benar terjadi, sepatu itu nggak rusak-rusak sampai 1 tahun. Bahkan sampai aku beli sepatu baru lagi, dia belum rusak, cuma dekil parah, tergeletak bengong di depan pintu kamar kos, heran kenapa di-pensiun-kan.
Setelah aku pacaran aku beli flat shoes dengan warna pink berani, bukan pink perek. Shocking pink kalau kata Arum Daruratri. Sepatu itu harganya lima puluh ribu rupiah, sedang diskon di The Little Things She Need. Kenapa lagi-lagi flatshoes ?
Comments