Ini malam kedua aku mimpi tentang vila Sanur. Yang nginap di situ aku, Titan, Mama, MamTini, Kak Iding, Linda Hadju. Dinner time. Tapi kita makan malamnya nggak di teras belakang. Menu-nya: tempe bacem bentuk segitiga, tahu bacem, dan sambel yang lebih kecil dari kelingkingmu. Semuanya sdh ditata di atas piring masing-masing. Aneh, nggak penting. Kalau nggak salah tahu bacemnya yang bentuk segitiga ukuran medium, tempe bacemnya yg ukuran 1x1 ditaruh di atas tahu segitiga. Sialnya, sambelnya kebuang lagi sama tanganku. Cuma kesapu gitu trus "Lho? Sambel kok tinggal jejaknya di piring?" Wah dasar, ga penting banget tu sambel seukuran mikrobakteri. Trus aku duduk-duduk di bawah pohon kelapa di dekat kolam renang sambil nelpon.
Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...
Comments