Skip to main content

Pertemuan

Saya bertemu dengan tari setelah masa depresi yang dalam

Di studio tari aku membaca wajah-wajah yang berbeda. Sampul-sampul yang tak kutemukan di rak buku.

Hari pertama, aku belajar bahwa pikiranku tidak bisa berkeliaran jika mau mengikuti gerakan dengan benar.

Pertemuan kedua, aku belajar kecepatan. Selama ini yang kutahu tentang speed adalah mengejar deadline. Aku akrab dengan bercepat-cepat, tapi aku belum mengenal ketukan. Selama ini yang kutahu tentang beat hanyalah detak jantungku. Jantung yang berdetak seperti jam rusak setiap selasa malam. Detak jantung yang kadang berhenti saat Seno Gumira berceramah di kelas, dan saat membaca namaku di credit title.

Sabtu berikutnya tidak ada kelas. Aku kecewa sekali dan menyadari bahwa aku mulai menyukai nari, walau bercepat-cepat. Aku melenggang santai saat kelas sinematografi, tata suara, dan yang lain-lain dibatalkan. Aku hanya kecewa berat jika kelas penulisan skenario diliburkan.

12 Februari 2011 Hari Sabtu yang biasa di bilangan Radio Dalam. Hari itu tidak biasa bagiku karena aku dan seorang teman di kelas diminta untuk menari berdua saja sementara murid yang lain menonton. Kamu nggak bisa membayangkan, dan akupun tidak bisa mengulang dalam pikiranku seberapa senangnya! Itu adalah kejadian yang aneh. Aku masih belum akrab dengan tari-menari, tapi aku diminta memberi contoh. Aku beberapa kali melakukan itu di kelas skenario, tapi studio tari adalah Wonderland dimana aku menjadi Alice. Alice yang bingung dengan segala hal yang ditemuinya.

Pertemuan hari itu dan pertemuan-pertemuan berikutnya, aku ketagihan. Guruku yang pendek itu, kalau menari seperti bukan manusia. Atau mungkin dia memberi referensi baru untukku tentang gambaran manusia. Dia seperti bola enerji dan hanya berada di dekatnya saja aku merasa begitu kuat, aku ingin menari dengan seluruh otot, urat, kulit, helai rambut yang ada di badanku.

Aku belajar dengan senyum lebar, dan tertawa sendiri jika dia melucu. Murid-murid yang lain mungkin hanya tertawa dalam hati (?) Aku terlalu senang, setiap berada di studio aku gembira sampai ke ubun-ubun. Guruku tidak pernah memuji satu-persatu dari kami. Jika dia memuji, dia memuji satu kelas. Dia hanya pernah secara personal menyarankan sesuatu padaku: untuk pakai sepatu. (Heeeehehehehehehe ndeso banget ya dulu aku di kelas hiphop nggak pakai sepatu). Aku sungguh tidak punya sepatu untuk nari hiphop. Semua sepatuku flat shoes. Demi Tuhan aku bukan penari. Sehari-hari aku berkutat dengan lembar-lembar fotokopian Sartre, Beckett and Brecht, lompat dari bus ke bus untuk sampai ke kampus. I don't have the look, the attribute, and the body of a dancer. I just have the love. Akhirnya aku pakai sepatu kakakku, sepatu gym nya yang tidak pernah lagi dipakai karena dia sudah berhenti nge-gym.

Comments

Popular posts from this blog

It Has Been A Lot!

Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...

What is happiness? It sounds like a snack.

I would, like usually, open this post by saying "Things are crazy". Yes, I don't know are things really crazy or is it just me. I think it's the latter. Life appears as surprises to me. And I act like a door, opening this tunnel, closing another one. I don't feel dull, and I can't say my days have been dull for they are full with challenges. But I have been so alone. This also sounds weird. Since when that I'm not alone? I always pull myself back from any social event. I hang out alone. I guess the last time I had a good time outside the house/office/campus with another human being was the last Saturday in January, so it's a month ago. It is true that if I just ask, I will get people willing to go with me. But I am the pickiest picky pick ever because most of the times when I don't pick, I get bored with dull conversations, or a view of someone watching his/her phone like there's nothing else to see. So all this time I hang out alone. Mos...

sehat

Aku masih sakit, nih, blog.. padahal besok udah hari Kamis, harus bekerja di Pingu's. Semoga hari ini sembuh dong, yuk yaaaa...yuuk cepet sehat. Cepet mandi terus ke kampus. Lah kapan istirahatnya? Akakakaka... harus mengejar Armantono nih ik. Come on warrior!!!!!!! Ik merasa hampir gilaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaghhhhhhhhhhhhhhh lontooooooooooooong please, please, ik mau lulus semester ini. Please sehat wal afiat, dan sexy walafeksi... (gila)