"A traveller travels to search for things he will find when he gets home"
Kira-kira begitu tulisan yang kubaca di majalah di dalam pesawat Lion Air. Sebelum membaca tulisan itu, aku membaca artikel tentang "Pulang". Perjalanan pulang bisa menyenangkan bisa tidak, tergantung apa yang menunggu kita sepulangnya kita. Beberapa saran untuk disyukuri bagi mereka yang sedang bersungut dalam perjalanan pulang, begitu tulis majalah Lion Air ini, "Bersyukurlah, berarti anda punya rumah. Pulang adalah kata yang tidak dikenal mereka yang tidak punya rumah." Fuck you banget deh, majalah. Badan langsung rasanya sakit semua wekekeke....
Here are some things I wanna share.
I only spent like Rp450.000 for that vacation in Bali and I got a villa worths Rp12.000.000/day . Itu kan uh-may-zinc banget gitu, blog. It must be a good karma. Itu villa keindahannya tingkat dewa Zeus gitu, punya hutan buatan dan langsung tersambung dengan pura rakyat dan Pantai Sanur bagian pinggir alias jauh dari cafe tempat bule-bule membacot. I can't forget the green green grass where I laid my back on, time to time, I rolled like a dog, a bunny, a happy little pet.
Aku rasa itu liburan terindah yang pernah kurasakan. I didn't have any desire to be drunken, to jump into parties. All I wanted, I got. I just wanted to feel so peaceful. I woke up early in the morning and I heard the ocean. Free, yummy, and healthy breakfast, then I jumped to the small bicycle and cycling around...no exact destinaton. I ride and ride and ride so far. There was no pollution, everyone is so friendly, the sun burned my skin a lil bit.
To wear anything I feel comfort in, to be greeted like a family along the way, to see greens and beaches everywhere, that was AWESOME.
I went everywhere alone, with that bicycle and the red handbag filled with phone (I just needed the cam), Lays, Pocari Sweat, cigar, lighter, and small wallet. Sudah basapeda sampai nyasar-nyasar, balik ke vila cuma ganti baju langsung minta anter Gogo ke Khrishna karena teringat pesanan Ayu Eka Prawitasari yang minta dibeliin celana-celana Bali. Melewati Lapangan Puputan, tampak masyarakat antusias mempersiapkan festival Ogoh-ogoh nanti malam.
Kira-kira begitu tulisan yang kubaca di majalah di dalam pesawat Lion Air. Sebelum membaca tulisan itu, aku membaca artikel tentang "Pulang". Perjalanan pulang bisa menyenangkan bisa tidak, tergantung apa yang menunggu kita sepulangnya kita. Beberapa saran untuk disyukuri bagi mereka yang sedang bersungut dalam perjalanan pulang, begitu tulis majalah Lion Air ini, "Bersyukurlah, berarti anda punya rumah. Pulang adalah kata yang tidak dikenal mereka yang tidak punya rumah." Fuck you banget deh, majalah. Badan langsung rasanya sakit semua wekekeke....
Here are some things I wanna share.
I only spent like Rp450.000 for that vacation in Bali and I got a villa worths Rp12.000.000/day . Itu kan uh-may-zinc banget gitu, blog. It must be a good karma. Itu villa keindahannya tingkat dewa Zeus gitu, punya hutan buatan dan langsung tersambung dengan pura rakyat dan Pantai Sanur bagian pinggir alias jauh dari cafe tempat bule-bule membacot. I can't forget the green green grass where I laid my back on, time to time, I rolled like a dog, a bunny, a happy little pet.
Aku rasa itu liburan terindah yang pernah kurasakan. I didn't have any desire to be drunken, to jump into parties. All I wanted, I got. I just wanted to feel so peaceful. I woke up early in the morning and I heard the ocean. Free, yummy, and healthy breakfast, then I jumped to the small bicycle and cycling around...no exact destinaton. I ride and ride and ride so far. There was no pollution, everyone is so friendly, the sun burned my skin a lil bit.
To wear anything I feel comfort in, to be greeted like a family along the way, to see greens and beaches everywhere, that was AWESOME.
I went everywhere alone, with that bicycle and the red handbag filled with phone (I just needed the cam), Lays, Pocari Sweat, cigar, lighter, and small wallet. Sudah basapeda sampai nyasar-nyasar, balik ke vila cuma ganti baju langsung minta anter Gogo ke Khrishna karena teringat pesanan Ayu Eka Prawitasari yang minta dibeliin celana-celana Bali. Melewati Lapangan Puputan, tampak masyarakat antusias mempersiapkan festival Ogoh-ogoh nanti malam.
Comments