Curhatan kali ini adalah untuk menggelar tikar. Tikar besar yang jarang kupajang. Ini adalah cerita lama, terjadinya tahun 2006, saat aku berusia 18 tahun, datang ke Jakarta dari sebuah kota kecil di Jawa Timur.
Dengan semangat proklamasi, Ibuku mengurus proses daftar ulang di Ruang Pengajaran FFTV, aku duduk bingung di kursi-kursi semen. Karena mirip halte bus, tempat itu disebut halte. Di sebelah kiri dari posisiku duduk, di bawah rindang pohon yang tumbuh di area parkir motor, berdiri sebuah loket yang mencolok sekali. Loket itu disusun dari triplek dan beberapa bongkah kayu. Di balik loket itu berkerumun mahasiswa-mahasiswa yang tampaknya senang riang sekali menyambut kami, anak baru. Mereka memanggil-manggil kami untuk ikut berkerumun di sekitar loket, untuk mengisi formulir Olimpiade, What the... ngapain juga gue harus wajib banggets ikut olimpiade? I'm not athletic at all. Udah wajib, bayar lagi. Ya... akhirnya aku notice juga, ini pasti Os to the Pek, OSPEK.
Dengan semangat proklamasi, Ibuku mengurus proses daftar ulang di Ruang Pengajaran FFTV, aku duduk bingung di kursi-kursi semen. Karena mirip halte bus, tempat itu disebut halte. Di sebelah kiri dari posisiku duduk, di bawah rindang pohon yang tumbuh di area parkir motor, berdiri sebuah loket yang mencolok sekali. Loket itu disusun dari triplek dan beberapa bongkah kayu. Di balik loket itu berkerumun mahasiswa-mahasiswa yang tampaknya senang riang sekali menyambut kami, anak baru. Mereka memanggil-manggil kami untuk ikut berkerumun di sekitar loket, untuk mengisi formulir Olimpiade, What the... ngapain juga gue harus wajib banggets ikut olimpiade? I'm not athletic at all. Udah wajib, bayar lagi. Ya... akhirnya aku notice juga, ini pasti Os to the Pek, OSPEK.
Comments