Pulang dari suatu tempat, dan hujan tiba-tiba deras. Terpaksa berteduh dulu. Dan tempat berteduhnya itu rumah jl.batujajar. Di depan pintu warnet aku menyobek kertas dan menjadikan pahaku meja. Seorang gadis kecil bule memperhatikan apa yang aku lakukan. Aku nulis dengan bolpen hitam:
Somebody who already publish a novel,
Somebody who already fuck and fucked,
Terus ga bisa dilanjutin karena kertasnya basah banget. Hujan reda aku pun melanjutkan perjalanan. Aku membawa tas ransel dan eh ada jaket keren tergeletak, kubawa saja. Jaketnya itu warna cream cerah bahan dalamnya bulu luarnya jeans. Di bagian punggung terjahit gambar cowok versi pop-art Andy Warhol gitu. Trus begitu jalan, aku terbangun dan sadar tadi itu mimpi. Tapi ternyata aku lalu mimpi lagi... Mampir di Oenpao sama Ayah, untuk urusan yang sebentar tapi jadinya malah nongkrong, diawali dengan seorang waitress cina yang lumayan cantik menyapaku: "Eh apa kabaar? Sekarang kerja di mana? Oh, di Slipi. Bisa dong, after work, segelas beer di sini." Pokoknya dia ramah banget dan seolah tahu banyak tentang aku. Akhirnya si Ayah cabut duluan dan aku stay. Aku punya foto, aku lupa apakah dalam bentuk foto cetak atau post card. Yang jelas dipinjam sama orang, aku bilang, ya, pakai aja. Itu kayak foto art gitu, dominasi warna cream. Aku ngga terlalu merhatiin gambarnya apa. Trus tiba-tiba ada anak kecil bule narik-narik tanganku, dan dia membawaku ke sebuah sudut di Oenpao itu, yang dikerubung manusia.
Somebody who already publish a novel,
Somebody who already fuck and fucked,
Terus ga bisa dilanjutin karena kertasnya basah banget. Hujan reda aku pun melanjutkan perjalanan. Aku membawa tas ransel dan eh ada jaket keren tergeletak, kubawa saja. Jaketnya itu warna cream cerah bahan dalamnya bulu luarnya jeans. Di bagian punggung terjahit gambar cowok versi pop-art Andy Warhol gitu. Trus begitu jalan, aku terbangun dan sadar tadi itu mimpi. Tapi ternyata aku lalu mimpi lagi... Mampir di Oenpao sama Ayah, untuk urusan yang sebentar tapi jadinya malah nongkrong, diawali dengan seorang waitress cina yang lumayan cantik menyapaku: "Eh apa kabaar? Sekarang kerja di mana? Oh, di Slipi. Bisa dong, after work, segelas beer di sini." Pokoknya dia ramah banget dan seolah tahu banyak tentang aku. Akhirnya si Ayah cabut duluan dan aku stay. Aku punya foto, aku lupa apakah dalam bentuk foto cetak atau post card. Yang jelas dipinjam sama orang, aku bilang, ya, pakai aja. Itu kayak foto art gitu, dominasi warna cream. Aku ngga terlalu merhatiin gambarnya apa. Trus tiba-tiba ada anak kecil bule narik-narik tanganku, dan dia membawaku ke sebuah sudut di Oenpao itu, yang dikerubung manusia.
Comments