I woke up at about 3:20 from a nightmare. Aku mimpi Wannes meninggal. Tiba-tiba aja. Namanya Reivana Wannes. Tiba-tiba aja status fb kakakku berduka cita, dan nge-tag Wannes. Aku buka fb nya Wannes, isinya status teman-temannya semua nge-tag dia. Alhamdulillah itu mimpi, bukan kenyataan. Pas bangun aku ngerasa kayak menuju keguncangan otak sedikit gitu... aku belum sadar kalau itu mimpi. Begitu aku sadar, aku langsung ngerasa nyess... legaa ternyata mimpi, bukan kenyataan... langsung lompat dari tempat tidur nyalain laptop berharap dia online tapi kagak. Setidaknya.. mimpi itu memberi sebuah pesan buat aku, bahwa hidup itu pendek banget. Tidak ada waktu yang tidak tepat untuk menyatakan cinta kasih. Tidak ada waktu yang kurang tepat untuk memulai sesuatu yang baik. Karena hidup pendek banget. Orang tiba-tiba mati ngga pake permisi.
Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...
Comments