Begini mimpinya: Aku masuk dalam film horror. Pemainnya Leonardo Dicaprio, satu pria, satu wanita, yang akan kita sebut Valencia saja (nama ngarang di tempat), dan aku. Kami duduk dalam satu meja di istana monarki Inggris. Semua dari kami memakai baju bagus. Leonardo pake jas merah marun yang dalam warnanya. Dia ramah. Kami semua baru saling mengenal di meja itu. Awalnya di dalam mimpi aku bertanya apakah kami semua ini bangsawan, tapi kemudian aku sadar enggak. Kami adalah tamu open house istana. Di ruangan itu hanya ada meja kami. Mungkin ada meja lain, tapi jaraknya sangat jauh. Dan tidak ada orang yang lewat. Lampunya terang sekali sampai aku berpikir 'apa benar aku sedang berada dalam film horror? tone film nya ngga cocok'. Kita ngobrol-ngobrol, aku ngga banyak omong karena masih membaca situasi. Si Valencia banyak omong dan sok akrab sama Leonardo. Valencia duduk di sebelahku, kami berhadapan dengan Leo dan satu pria lagi. Aku ngga tau bagaimana aku kelihatannya, tapi yang jelas Valencia terlihat seperti anak bangsawan: kulit putih mulus tanpa bocel, rambut hitam kelam panjang tampak sehat terawat, tubuh kurus, dan posisi duduk yang tau table manner. Si cowo sesekali menimpali, tapi percakapan dikuasai oleh Leonardo dan Valencia. Leo beberapa kali melihatku (tapi itu normal, karena kami duduk berhadapan). Hmm, mana nih horror-horrornya? Lalu, tangan Leo menjangkau salah satu sudut di dinding dan ia mendapatkan sebuah kaleng. Aku jadi curiga jangan-jangan Leo orang dalem istana. Kaleng itu indah sekali, tampak vintage dan dibuat dengan bahan-bahan terbaik. Ada ukiran anak kecil cewe dan cowo yang berciuman. Leo membuka kaleng itu (yang dibuka sisinya, bukan penampang atau tutupnya), dan muncullah wajah badut yang menempel di dinding kaleng. Badut itu nyala matanya dan memutar melodi "London Bridge Is Falling Down" Aku diem aja ngga ketawa ngga nyengir sementara Valencia tampak pura-pura tersenyum, pura-pura senang. Melodi habis. Hening sejenak, lalu si badut membelah wajahnya dan keluarlah boneka gadis kecil dengan pegas di punggungnya. Dengan suara "Towewewewew!"
"Ah! Ahaha..." Si Valencia ketawa sok imut benjet. Leonardo hanya tersenyum tipis. Si boneka gadis kecil bermata besar itu segera menyanyikan London Bridge dengan suara anak kecil cewek yang cempreng namun ceria. Valencia mengambil kaleng itu dan menggendong bonekanya, sehingga boneka itu kini berada di samping kananku. Lagu selesai. Valencia seperti memeluk boneka itu (lagi-lagi si Valen SOK IMUT). Si boneka langsung nyanyi lagi, dengan suara yang berbeda tapi masih ceria. Si Valen tersenyum dan menutup matanya sambil sedikit terkikik "Hihihi..." (VALENCIA SOK IMUT). Aku bisa merasakan it's getting scary. Si boneka itu menyeramkan. Mungkin karena Valen meluknya terlalu erat, kaki si boneka ganti posisi. Kaki pendeknya yang tadinya berdiri biasa kayak anak kecil, skrg jadi Allegro. Dan dia ngga nyanyi London Bridge lagi. Dia memutar lagu klasik. Valen segera mengembalikan posisi kaki si boneka dengan ekspresi wajah panik yang disembunyikan. Posisi kaki sudah kembali, tapi dia tetap memutar melodi klasik yang entah kenapa, terdengar spooky. Abis itu, si boneka menyanyikan London Bridge dengan slow motion dan suara anak kecil yang bass. Dan matanya yang lebar bikin makin seram. "Hiii.." kata Valencia pura-pura takut, tapi aku takut beneran. Si Valen mendekatkan boneka itu padaku sehingga matanya seperti melototin aku. Aku ketakutan sekaligus sebal sekali sama Valen, dan merasa terpojok. Ya kno what I did? I spitted on the doll's eye. Leonardo terkesima melihat perbuatanku, tapi situasi awkward itu tidak berlangsung lama. Next thing happened adalah aku mencakar Valencia sekuat-kuatnya dan secepat-cepatnya, seperti kucing gila. Punggung Valen berdarah-darah, begitu pula pipinya. Si Valen itu sampe jatuh dari kursinya, dan tidak kuberi kesempatan untuk melawan. Setelah itu boneka itu entah di mana, ia menjadi sesuatu yang tidak lagi penting. Kami semua kembali duduk tenang di kursi masing-masing. Si Valen ngos-ngosan, dan berusaha merapikan hairdo-nya. Aku juga mengatur nafas. Si Leo bilang "Your hair must be a fierce one!" ke aku. Aku sendiri tidak dapat melihat diriku, kenapa si Leo bilang begitu? Apakah aku pake wig? Dan dia merasa rambut asliku pasti kribo sexy? Atau maksud dia aku ngga cocok dgn potongan rambut begini dan seharusnya rambutku itu kribo megar kayak singa ngamuk supaya sesuai dengan kelakuanku?
Entah bagaimana akhirnya acara dinner itu berakhir juga. Anehnya si Valen sudah nggak sok imut, kulit putihnya berubah menjadi kecoklatan gitu, tampak lebih normal. Rambutnya jadi keriting sexy, dan bajunya juga lebih enak dilihat, hanya pakai tanktop silk hitam, jeans dengan ikat pinggang yang bagus. Dan kami ngobrol di teras seperti orang normal. Tapi di punggungnya masih ada sisa luka-luka bekas ta'cakar.
"Ah! Ahaha..." Si Valencia ketawa sok imut benjet. Leonardo hanya tersenyum tipis. Si boneka gadis kecil bermata besar itu segera menyanyikan London Bridge dengan suara anak kecil cewek yang cempreng namun ceria. Valencia mengambil kaleng itu dan menggendong bonekanya, sehingga boneka itu kini berada di samping kananku. Lagu selesai. Valencia seperti memeluk boneka itu (lagi-lagi si Valen SOK IMUT). Si boneka langsung nyanyi lagi, dengan suara yang berbeda tapi masih ceria. Si Valen tersenyum dan menutup matanya sambil sedikit terkikik "Hihihi..." (VALENCIA SOK IMUT). Aku bisa merasakan it's getting scary. Si boneka itu menyeramkan. Mungkin karena Valen meluknya terlalu erat, kaki si boneka ganti posisi. Kaki pendeknya yang tadinya berdiri biasa kayak anak kecil, skrg jadi Allegro. Dan dia ngga nyanyi London Bridge lagi. Dia memutar lagu klasik. Valen segera mengembalikan posisi kaki si boneka dengan ekspresi wajah panik yang disembunyikan. Posisi kaki sudah kembali, tapi dia tetap memutar melodi klasik yang entah kenapa, terdengar spooky. Abis itu, si boneka menyanyikan London Bridge dengan slow motion dan suara anak kecil yang bass. Dan matanya yang lebar bikin makin seram. "Hiii.." kata Valencia pura-pura takut, tapi aku takut beneran. Si Valen mendekatkan boneka itu padaku sehingga matanya seperti melototin aku. Aku ketakutan sekaligus sebal sekali sama Valen, dan merasa terpojok. Ya kno what I did? I spitted on the doll's eye. Leonardo terkesima melihat perbuatanku, tapi situasi awkward itu tidak berlangsung lama. Next thing happened adalah aku mencakar Valencia sekuat-kuatnya dan secepat-cepatnya, seperti kucing gila. Punggung Valen berdarah-darah, begitu pula pipinya. Si Valen itu sampe jatuh dari kursinya, dan tidak kuberi kesempatan untuk melawan. Setelah itu boneka itu entah di mana, ia menjadi sesuatu yang tidak lagi penting. Kami semua kembali duduk tenang di kursi masing-masing. Si Valen ngos-ngosan, dan berusaha merapikan hairdo-nya. Aku juga mengatur nafas. Si Leo bilang "Your hair must be a fierce one!" ke aku. Aku sendiri tidak dapat melihat diriku, kenapa si Leo bilang begitu? Apakah aku pake wig? Dan dia merasa rambut asliku pasti kribo sexy? Atau maksud dia aku ngga cocok dgn potongan rambut begini dan seharusnya rambutku itu kribo megar kayak singa ngamuk supaya sesuai dengan kelakuanku?
Entah bagaimana akhirnya acara dinner itu berakhir juga. Anehnya si Valen sudah nggak sok imut, kulit putihnya berubah menjadi kecoklatan gitu, tampak lebih normal. Rambutnya jadi keriting sexy, dan bajunya juga lebih enak dilihat, hanya pakai tanktop silk hitam, jeans dengan ikat pinggang yang bagus. Dan kami ngobrol di teras seperti orang normal. Tapi di punggungnya masih ada sisa luka-luka bekas ta'cakar.
Comments