"Lagian lo kok ngga dikasih nomor halaman sih" kata si Cakti. "Gue ngga tau caranya" jawabku asal menjawab. Memang aku ngga tau caranya tapi itu bisa diusahakan. Alasan sejujurnya adalah aku lupa semi tidak peduli. Cakti pun membantu ik. Otak ik serasa crash bandicoot, buka Microsoft Words aja salah-salah. Mampang Prapatan."Jadi gimana nih strateginya? Kita ke Matius Ali, trus nge print di rumah lu..." "Kita ke Matius Ali, trus ke Armantono," "Kita ke Matius Ali, print an tinggal aja di fotocopian.." bingung kan, kamu blog? Itu adalah pertanda otaknya Cakti crash bandicoot juga sore itu. Ngomong udah ga ada yang bener. Aku yang sudah jadi perokok ngga niat, sore itu merokok berbatang-batang, sambil nelpon Gempar berharap dapet no.telpon Riri. Riri itu anaknya Armantono. I need his home address. Telpon ngga diangkat oleh Gempar, aku SMS Nindi, minta no.telpon Kenya. Nindi bilang dia ngga punya. Untung aku ngga tutup telpon, tapi aku cerita ke Nindi bahwa I NEED ARMANTONO'S ADDRESS. Akhirnya Nindi Bbm-in Kenya, dan alhamdulillah Kenya tau alamat Armantono lengkap. Aku aja masih hafal nih: Komplek Timah AA/38 Kelapa Dua, Cimanggis. Sepanjang jalan dia ngedumel karena macet, dan berkali-kali ngomong "Kalo Armantono nya ga ada di rumah gimana?" Huh, dia ini emang 11-12 sama BOKAP. NEGATIF. Kami berhenti di tukang fotocopian. Aku fotocopy surat pengesahan, Cakti nanya jalan ke Kelapa Dua pada tukang martabak. Si tukang martabak segera menyobek kertas pembungkus makanan dan menggambar peta dengan bolpen untuk Cakti. Waw, gila, nih berkah dari Tuhan nih si tukang martabak. Meluncur jauh... sampe hampir depok. "Cak, ini kali ya, belokannya?" "Bukan! Masih jauh!" -___- hmm. oke. memang jauh. Sepanjang jalan ik membayangkan muka Armantono. Ini dimaksudkan untuk mengirim AFIRMASI pada alam, bahwa ARMANTONO ADA DI RUMAH. Akhirnya kita menemukan itu no.38. Rumahnya kayak mesin soak, kue muffin kroak. Dan di balik pagar besi ku lihat sesosok lelaki ongkang-ongkang kaki di balik layar komputer. Lelaki itu mengenakan celana basket. Jangan-jangan gue nyasar ke rumah Michael Jordan. Ah ngga mungkin. Itu pasti jawaban dari alam atas afirmasi ik: itu pasti Armantolay!
Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...
Comments