Skip to main content

mimpi dan kenyataan

Mimpiku tadi ih supeerr supeeer ngga banget. Aku jadi guru bahasa inggris di tempat les-lesan yang kurikulumnya kayak Pingu ada Introduction sampe Assesment Class. Ketat juga peraturannya, dan juga ada make up class alias ditempuhi lek ketepa'an hari libur nasional jadi hari libur nasional tidak mengurangi jumlah pertemuan. Tapi dong blog, muridnya anak IKJ semua. Bukan balita-balita yang menggemaskan dan harum itu, tapi anak-anak IKJ blog... astagfirullahaladzim.. Ada Ibe and the gank, anak-anak 2007 (tentunya bukan gank Yandy yang agak bersihan) dan tempatnya itu di ruangan kumuh di lantai 3. Menaiki tangga besi sempit muter yang kotor berdebu parah di dalam gedung tua. Eeewwwhhhh.... Asistenku Dini, anak MIN dulu. Ta'carinya ya fotonya Dini. *Setelah cari di google* ngga ketemu. Aku lupa nama panjangnya. Banyak banget yang punya nama Dini Novita. Pokoknya kalo kamu tau blog, asistenku itu juga muka jalanan gitu deh. Lantai 3 tempat les, lantai 2 kosong, lantai 1 kantin. Lantai 1 itu lantainya tanah, makanannya ya gerobak-gerobak gitu. Sempit tempatnya. Terus karena hari Selasa besok libur nasional (sesuai kenyataan. Tapi di Mimpiku itu udah hari Kamis), ada yang make up class. Jadi 3 kelas sore itu, jadi aku harus ngajar sampe jam setengah 7 malem... di gedung tua itu... hiiiiii. 

Dan yang paling serem, aku makan di kantin, dengan perasaan stress karena make up class itu. Makannya ngga menikmati, trus aku lihat Nadia, talent ku film Disturbance dulu. Alhamdulillah.. ada yang cantikan. Lagi-lagi aku lupa nama panjangnya (ini akibat udah ngga main fesbuk) jadi ngga bisa memajang fotonya di sini. Aku minta si Nadia itu nelponin Dini biar dateng bantuin aku di make up class. Terus pas aku mau bayar mie ayam, aku nginjek sesuatu. Jadi di tanah itu ada kucing gendut warna abu-abu menjijikkan posisi terngkurap, mata tertutup. mulutnya sedang mengunyah sesuatu yang kecil. Sesuatu yang kecil itulah yang kuinjak, dan pas aku melangkah maju...

OMAIGAT!
di kakiku nempel itu tangan, bahu, dan kepala KUCING. dengan darah-darah tentunya.

Comments

Popular posts from this blog

It Has Been A Lot!

Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...

What is happiness? It sounds like a snack.

I would, like usually, open this post by saying "Things are crazy". Yes, I don't know are things really crazy or is it just me. I think it's the latter. Life appears as surprises to me. And I act like a door, opening this tunnel, closing another one. I don't feel dull, and I can't say my days have been dull for they are full with challenges. But I have been so alone. This also sounds weird. Since when that I'm not alone? I always pull myself back from any social event. I hang out alone. I guess the last time I had a good time outside the house/office/campus with another human being was the last Saturday in January, so it's a month ago. It is true that if I just ask, I will get people willing to go with me. But I am the pickiest picky pick ever because most of the times when I don't pick, I get bored with dull conversations, or a view of someone watching his/her phone like there's nothing else to see. So all this time I hang out alone. Mos...

yang hilang dan jadi debu

ada sesuatu yang diam-diam kupercaya walau ia hilang ditelan bisingnya Jakarta: Islam ada cara hidup yang sederhana, menawarkan kesadaran untuk mampu mengendalikan kecepatan, dengan disiplin lima kali dalam sehari, dan tidak lebih lama dari basa-basi ada cara bertutur yang tegas dan disetujui tubuh, istighfar membuatku sadar, bahwa yang sakit bisa pulih tasbih menunduk-daguku, bahwa seniman itu sebuah entitas hamdalah hangatkan bahuku, ada yang Maha kendali di atas kendaliku