So, like I wrote before, this day (Saturday - which now is already Sunday) I would be judging on a dance competition which was held at Pamulang Square. And I already posted some internet-pictures of Pamulang Square, you can imagine how it's like. I worked this job before dan uangnya turun langsung setelah acara selesai. Di Pamulang Square yang super duper kelew alias WHELEK itu, aku hanya mengincar CFC (California Fried Chicken yang pabriknya di Ciamis) jadi Ciamis Fried Chicken. Itu adalah makanan yang berkesan bagiku saat aku masih kecil. Aku terkesan pada chicken stirpnya saat makan bersama Mama Tini dan sepupuku, Kak Iding (Chaidir. Iding itu panggilan rumah).Saat itu kami di tempat renang gitu... di Surabaya. Kuceritakan sedikit ya.. suasananya kala itu, foodcourtnya di lantai 2, kolam renang lantai 1 (ya iyalah). Untuk ke foodcourt anda harus naik tangga - dan anak tangganya banyak. Kebayang kan gilingannya orang abis renang harus menaiki tangga yg spt itu? Dan suasana sangat tegang dan dingin. Kak Iding baru dibacotin Mama Tini. Tapi aku ngga tegang-tegang banget karena situasi seperti itu sudah biasa bagiku. Sampe foodcourt, Mama Tini memilih CFC. Aku lupa mereka pilih menu apa yang jelas aku chicken strip dan nasi. Sambil makan, Mama Tini terus ngebacot dengan ketus tapi aku melayang... itu chicken strip... menerbangkanku jauh dari bacotan in the atmosphere... demikian latar belakang kenapa aku selalu melirik kalo ada CFC. Lagipula, CFC itu sangat jarang malah sempat kukira sudah ngga ada. Nah di Pamulang Square itu ada. Memang dia adanya selalu di tempat-tempat ganjil dan terbelakang. Gaji yang cuma 300rb dan kuniatkan untuk bayar GIGI yang juga pas 300rb. Aku cuma mau makan chicken strip pake nasi aja dengan uang itu. Aku yakin ngga sampe 30rb. Mengenakan celana jeans MERAH high waist dan kaus LOGO yang nyaman. Perjalanan panjang Bintaro-Pamulang setelah sebelumnya dari Cikini dulu membuatku terngantuk-ngantuk di jalan. Sampe Pamulang Square jam setengah 2, kenalan dengan Moniq. Dia berpenampilan hiphop. Kaus abu-abu santai, celana jumpsuit 3/4 warna cream, dan sneakers yang keren. Pesertanya hanya 3.. akakakak... gagal banget si Miftah. 46, Sacredly Dance, dan Red Mask dari Santa Ursula BSD. Peserta pertama 46.. lumayan... mereka punya skill technique seperti salto, headstand (yang aku belum bisa sampai sekarang -___-) setelah itu Sacredly Dance. Sumpah yang itu aku NAHAN KETAWA bangget. Sekarang ik sudah belajar, saat menjadi juri, etis nya straight face. Tidak mengejek, menertawakan, maupun berdecak kagum. Dia banyak adegan ngangkang jongkok sama hair flippin. Itu tidak terhitung berapa kali dalam 5 menit durasi dance. Lama lho dance nya si Sacredly Agnezious Ngarep itu. Terus, ngga adilnya, si 46 yang ber-skill di-battle sama Sacredly. Dasar panitia goblok. Sudah tau ngga sebanding. Pas aku bilang, di akhir acara, Desta bilang cuma buat lucu-lucuan kita-kita. Hih. Panitia macam apa itu.
Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...
Comments