Skip to main content

halo, selamat petang

*sedang mendengarkan lagu Blurry nya Puddle Of Mud*
Everything's so blurry, everyone's so fake.
Everybody's empty, everything is so messed up.

Wonderful. Terkadang aku merasa masih Keisha yang sama dengan Keisha yang memajang lirik lagu ini di blog ini 5 atau 6 tahun yang lalu. Terkadang seperti itu. Dunia ini lebih sering terasa menakutkan daripada nyaman untuk dihuni. Ya, tapi aku baik-baik saja.. dapat dilihat aku masih berdiri tegak kan sampai saat ini.  Ngga ada yang bener-bener musuh, tapi ngga ada juga yang bener-bener sahabat. Kamu selalu sendirian. Bertemu dengan teman-teman yang tampak 'benar' pada awalnya saja, damn man, itu sudah biasa. Berteman dengan Irin, Nique, Daru, kemudian Anis juga. Awalnya bukan karena aku merasa mereka asik, tp karena aku kesepian dan mereka datang mendekat. Berteman bertahun-tahun, kadang saling mengisi, tapi banyakannya sih kosong. Cuma teman hiphip hura aja kecuali Nique. Kami banyak ngobrol, dan di tahun-tahun awal perkuliahan dia care banget masalah perjalanan akademik-ku yang ancur-ancuran hahaha bukan karena goblok, tapi males dateng kuliah. Dia juga kawan ngobrol filosofi yang pertama sebelum mulai berkawan dengan Nindi, Zaki, Aldo. Sebetulnya, di sini, di duniaku yg ini, kalau mengharapkan teman yang tulus, teman yang memiliki kualifikasi untuk disebut 'teman', aku akan menemukan ke-blurry-an. Everyone's so fake. Tapi kalau kita ngga nyari teman, cuma nyari partner untuk perkembangan sesuatu, mereka-mereka itu lalu datang sebagai kawan, sebagai sahabat. Tapi begitu kita anggap mereka sahabat, mereka akan mengecewakan. Impresi yang udah melekat di otakku tentang mereka lalu messed up. Apakah ini dunia orang dewasa, atau aku yang terlalu mudah kecewa? Tapi kalau Irin sih dari awal emang aku ngga ada impresi yang bagus-bagus banget jadi sama dia ngga kecewa. Ya memang dari awal berkawan, sudah begitu orangnya.  Posting ini bukan tentang itu, tapi tentang bagaimana di kiri duri di kanan racun. Aku ngga bisa bersandar atau sekedar mengistirahatkan punggung pada sisi manapun. Sementara dulu waktu di Malang aku selalu punya Joanna Candra. Aku yakin melangkahkan kaki ke rumahnya saat senang dan sedih. Aku juga selalu diyakini Cynthia Christina sebagai tujuan saat ia senang dan sedih. Kami bukan lingkaran pengkhianat, hanya manusia-manusia biasa yang berteman dengan tulus. Sementara di Jakarta ini, di usia 20 tahunan, bahkan sahabat yang sempet kuanggap kakak sendiri, ngomong tentang friend of benefit dong. Ya udah, begitu, aku cuma mau cerita ke kamu, blog, seperti itulah pergaulanku di sini. Aku kadang melihat diriku sebagai anak kecil yang menggigil kedinginan tapi tampil sebagai wanita dewasa yang ceria, supel, dan strong. Menyenangkan menulis tentang ini, walau pahit.

Yang tidak berubah dan akan selalu ada dalam hidup ini adalah perubahan itu sendiri.
Life changes. Selalu inget itu dan aku baik-baik saja. Aku tersenyum dan baik-baik saja. Anak kecil yang kedinginan itu akan kuhangatkan dengan jaketku sendiri, sekalipun jaket itu agak basah karena hujan sore tadi. Aku sendiri yang akan memeluk anak kecil itu, bukan untuk mem-blow up rasa dingin yang dia rasakan, tp hanya untuk dia tahu:

KALAUPUN NGGA ADA YANG PEDULI SAMA KAMU, Keisha kecil, AKU, SI KEISHA BESAR, PEDULI SAMA KAMU DAN AKU NGGA AKAN MEMBIARKAN KAMU SEKARAT. KITA AKAN SALING MENGUATKAN.

Comments

Popular posts from this blog

It Has Been A Lot!

Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...

What is happiness? It sounds like a snack.

I would, like usually, open this post by saying "Things are crazy". Yes, I don't know are things really crazy or is it just me. I think it's the latter. Life appears as surprises to me. And I act like a door, opening this tunnel, closing another one. I don't feel dull, and I can't say my days have been dull for they are full with challenges. But I have been so alone. This also sounds weird. Since when that I'm not alone? I always pull myself back from any social event. I hang out alone. I guess the last time I had a good time outside the house/office/campus with another human being was the last Saturday in January, so it's a month ago. It is true that if I just ask, I will get people willing to go with me. But I am the pickiest picky pick ever because most of the times when I don't pick, I get bored with dull conversations, or a view of someone watching his/her phone like there's nothing else to see. So all this time I hang out alone. Mos...

yang hilang dan jadi debu

ada sesuatu yang diam-diam kupercaya walau ia hilang ditelan bisingnya Jakarta: Islam ada cara hidup yang sederhana, menawarkan kesadaran untuk mampu mengendalikan kecepatan, dengan disiplin lima kali dalam sehari, dan tidak lebih lama dari basa-basi ada cara bertutur yang tegas dan disetujui tubuh, istighfar membuatku sadar, bahwa yang sakit bisa pulih tasbih menunduk-daguku, bahwa seniman itu sebuah entitas hamdalah hangatkan bahuku, ada yang Maha kendali di atas kendaliku