aku ngga pernah se-letih ini badannya tapi aku juga merasa sangat hidup sekarang. aku mencuci bajuku sendiri secara rutin, membersihkan kamar, bekerja setiap hari, ujian menuju kelulusan dan memikirkan rencana selanjutnya. aku juga akhirnya ikut kelas hiphop seperti keinginanku sejak lama (yang sangat terpendam). Aku ngga pernah ngerasa se-restless ini. Mencuci baju sendiri itu keinginanku. Kadang mama dan ayah suka curi-curi nyuciin bajuku. Mama karena tangannya gatel liat cucian. Ayah karena menurutnya membilasku kurang bersih. Aku selalu ngomel kalau cucianku dicuciin. Entah sejak kapan.. yang pasti sejak umurku sudah 22 tahun, tiba-tiba aku ingin mengurus segala sesuatu-ku sendiri. Baju, kamar, bahkan duit plesir. Aku kerja gradak gruduk, ngajar di Pingu's, privat-an ada dua, aku juga bayar kelas dance hiphop itu sendiri. Aku ingin tinggal sendiri. Aku terus memikirkan itu. Walau di rumah ini nyaman, tapi aku merasa sangat anak kecil. Anak kecil yang iseng-iseng bekerja untuk dapet duit. Aku ingin pergi yang jauh. Aku ingin jadi dancer, menelurkan novel dan kumpulan cerita pendek, guru bahasa inggris yang sangat membantu kemajuan kemampuan bahasa inggris siswa-siswi di Indonesia. Dan kemarin kakakku lamaran. Usianya 27 tahun. Calon suaminya 30 tahun. Dan kakakku itu cuma bisa masak air dan indomie. Tidak bisa menyetrika. Menyapu dan Mengepel nya juga tidak bersih. Kemarin aku seperti semakin dibangunkan. Bahwa, hey, kamu bukan anak SMA. Kakakmu yang dulu badung seperti kamu ini hendak menikah, nanti menikahnya dekat hari ulang tahunku yang ke-23.
Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...
Comments