mbak uki
Lihatlah, artis sekali ya mbak uki usrok ini? Yang perlu diketahui oleh pembaca budiman, usia pertemananku dengannya sama dengan usia kami. Yes, kami berteman dari masih owek owek belum bisa ngomong. Si Uki ini dulu bercita-cita jadi astronot. Itu yang diutarakannya padaku ketika kami berusia lima tahun. Sementara cita-citaku pada saat itu adalah Ustadzah. Ohmaigat.. betapa mulia dan islami. Entah darimana si Uki dapat inspirasi untuk jadi astronot itu.. Aku masih PD ia terinspirasi dari mainan buatanku: pura-pura jadi astronot di jok belakang (paling belakang) mobil kijang. Dengan tali rafia kita ikat sampai njelimet (sampai kita terjelimet oleh tali yang malang melintang kemana-mana), kita merasa kita sedang mengendarai pesawat jet menuju bulan. Kebetulan jalan Malang-Batu menanjak. Makin tergunjang, jatuh gelundungan, makin kita merasa astronot beneran. Mbak Uki ini dulu kurus-hitam-dan keriting. Tapi sekarang lihatlah, dia sudah grown-up. Suer, dia menjadi segede ini bukan salah almarhuman pembantuku yang memberinya susu sapi setiap malam. Memang susu itu menambah berat badannya ketika kecil dulu. Tapi saat itu ia kekurusan. Nah kalau ini, ini adalah perbuatan junk food dan nasi lemak malaysia! Saya sudah mengingatkan dia berkali-kali untuk diet. Bukan saya gila-obsesi dengan kekurusan, tapi obesitas mbak uki ini mengganggu psikologinya dan itu sangatlah wajar. Itu teruji terbukti secara klinis, dan saya juga pernah obesitas. Sekarang mbak Uqie sering terserang depresi akut, dan saya sedih sekali.
Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...

Comments