hi blog,
aku bangun jam 6 pagi di hari minggu yang semoga cerah ceria ini. semalam aku bermimpi minta pekerjaan sama seorang penjual es krim Walls di Bandara Soekarno Hatta. Ini dikarenakan aku bosan hidup enak-nyaman dan aku kangen keluyuran seperti waktu masih nge-kos dulu (agak nggak nyambung ya? ya namanya aja mimpi). Aku masih ingat muka si mas-mas penjual es krim itu. Mukanya biasa aja kayak abang-tukang-bakso. Yang ada di pikiranku adalah pekerjaan "menyalakan ringtone (peeyowet-peeyowet-peeyowiyet) gerobak-gerobak Walls sepenjuru Bandara pada saat yang tepat". Sementara si mas belum mengiyakan, aku nongkrong dengan Toge, Anis, Cakti, dan entah siapa lagi. Si Cakti bilang dia baru keterima kerja jadi penulis skenario. wow man.. kau bisa lihat muka iri aku-anis-toge hahaha (ketawa pedih). Sesaat kemudian Cakti pamit, "gue kerja dulu ya!" (dengan bangga). Lal kita melihat dia keluar dari kantor LSM pakai seragam LSM (padahal LSM ga ada seragamnya ya? seragamnya itu kayak seragam PNS)
Di mimpi itu aku merasa gendutan (owh..sedihnya). Semua scene di mimpiku adalah sore menjelang malam dan malam. Nggak ada terang-terangnya. Gelap terus langitnya. Si Anis keluar dari Orange Boutique sambil makan macaroon warna oranye. Anis bawa sekantung macaroon warna-warni. Aku nyoba satu, yang rasa jeruk juga. Enak. Wow. Aku tanya sebetulnya itu butik jualan baju atau makanan, dia bilang dua-duanya, kayak bakery boutique gitu. whatever lah, aku tertarik masuk ke sana. Si boutique ini di jajaran ruko. Anehnya berjalan ke boutique itu susyeh. Jalannya menanjak banget, bikin tangga kayak sengaja mau ngerjain orang gitu.
Trus di ujung tangga beneran jalan nanjak miring tidak bertangga-tangga! Jadi butuh perjuangan dan siap malu (in case kepleset). Akhirnya sampailah aku ke butik itu. Butiknya biasa saja, memang warna lampunya oranye. Trus juga di mimpiku banyak orang Belanda, kira-kira seisi dua kapal perang -- terdampar di Indonesia dan kebanyakan ngga punya uang untuk balik ke negaranya. Saat itu keadaanku juga miskin, tapi di mimpi itu aku menyumbang pake cheque untuk satu Londo mbalik nang negorone!
aku bangun jam 6 pagi di hari minggu yang semoga cerah ceria ini. semalam aku bermimpi minta pekerjaan sama seorang penjual es krim Walls di Bandara Soekarno Hatta. Ini dikarenakan aku bosan hidup enak-nyaman dan aku kangen keluyuran seperti waktu masih nge-kos dulu (agak nggak nyambung ya? ya namanya aja mimpi). Aku masih ingat muka si mas-mas penjual es krim itu. Mukanya biasa aja kayak abang-tukang-bakso. Yang ada di pikiranku adalah pekerjaan "menyalakan ringtone (peeyowet-peeyowet-peeyowiyet) gerobak-gerobak Walls sepenjuru Bandara pada saat yang tepat". Sementara si mas belum mengiyakan, aku nongkrong dengan Toge, Anis, Cakti, dan entah siapa lagi. Si Cakti bilang dia baru keterima kerja jadi penulis skenario. wow man.. kau bisa lihat muka iri aku-anis-toge hahaha (ketawa pedih). Sesaat kemudian Cakti pamit, "gue kerja dulu ya!" (dengan bangga). Lal kita melihat dia keluar dari kantor LSM pakai seragam LSM (padahal LSM ga ada seragamnya ya? seragamnya itu kayak seragam PNS)
Di mimpi itu aku merasa gendutan (owh..sedihnya). Semua scene di mimpiku adalah sore menjelang malam dan malam. Nggak ada terang-terangnya. Gelap terus langitnya. Si Anis keluar dari Orange Boutique sambil makan macaroon warna oranye. Anis bawa sekantung macaroon warna-warni. Aku nyoba satu, yang rasa jeruk juga. Enak. Wow. Aku tanya sebetulnya itu butik jualan baju atau makanan, dia bilang dua-duanya, kayak bakery boutique gitu. whatever lah, aku tertarik masuk ke sana. Si boutique ini di jajaran ruko. Anehnya berjalan ke boutique itu susyeh. Jalannya menanjak banget, bikin tangga kayak sengaja mau ngerjain orang gitu.
Trus di ujung tangga beneran jalan nanjak miring tidak bertangga-tangga! Jadi butuh perjuangan dan siap malu (in case kepleset). Akhirnya sampailah aku ke butik itu. Butiknya biasa saja, memang warna lampunya oranye. Trus juga di mimpiku banyak orang Belanda, kira-kira seisi dua kapal perang -- terdampar di Indonesia dan kebanyakan ngga punya uang untuk balik ke negaranya. Saat itu keadaanku juga miskin, tapi di mimpi itu aku menyumbang pake cheque untuk satu Londo mbalik nang negorone!

Comments