Skip to main content

siang mendung di mulut kampus

gue baru aja keluar dari kampus. Hari ini, Jumat, 7 november 2008 ga ada kuliah sama sekali. Bisnis Film dipindah besok. Gue udah tau itu dari kemarin. Tapi ngga tau kenapa gue ngotot ke kampus hari ini padahal bisa aja gue seneng-seneng sendirian di Bintaro dan sekitarnya.

ternyata...bang!
IKJ bener-bener lagi mendung langitnya dan hatinya. Tulisan-tulisan menyayat tentang ironi sebuah institusi memenuhi dinding dan tanah kampus seni. Berawal dari penggrebekan narkoba di kampus yang ternyata penggrebekan itu atas restu bahkan atas request dari Bapak rektor tercinta.

Forum pun digelar. Beberapa mahasiswa berapi-api mengutarakan isi hati, ada yang hanya mengutip pertanyaan umum layaknya wartawan infotainment, namun yang lebih banyak lagi adalah suara-suara sumbang hanya berteriak-teriak menimpali. Aku diam di tengah-tengah semua itu.

Bapak Gandung mukanya pucat, membakar rokok dan tampak gelisah layaknya terdakwa di hutan rimba.

Sekali lagi aku diam tersayat di tengah-tengah semua itu.
Jika di tanah ada salah satu tulisan yang berbunyi "Lempar batus sembunyi tangan!"
Hey, tulisan itu aku rasa bukan hanya ditujukan pada para rektor, namun buktinya?? berkacalah... adik-adik yang teriak-teriak terus nyembunyiin mukanya pas forum tadi.

Aku tak kalah merasa hina tadi. Aku tidak menyuarakan apa-apa padahal banyak pertanyaan dan pernyataan bergulat dan berkecamuk di kepalaku.
Aku merasa putus asa. Cacimaki saja aku hari ini. Aku pun mencaci maki diriku sendiri.

Mencoba berpaling dan tak peduli. Tak bisa. Gagal.

Comments

Popular posts from this blog

It Has Been A Lot!

Wow, where should I start? So my comeback to dance class after a month break (sebulan aje dibahas...gimana lebih? Udah jadi buku keleus :D) had been a wild ride. Right away rehearsal for a performance and coordinating an event at the same time. Berto gave me this job from IDF, where I worked as P.I.C for Dance Writing Workshop. My girl IKAN said why am I taking the job if I am so busy? The answer is clear: I need to pay college. Ikan said she can just lend me money and I can focus on my thesis. God, bless this human that is my best friend. That's very kind and thoughtful of her. Anyway, I took the job so I was running 2 events at the same time. One in Cikini, Central Jakarta and one in SOM, South Tangerang. I became an adept Commuter Line user. I no longer mistaken peron 1 with peron 2 and silly things like that, like not knowing which gate I should enter after scanning my card to enter the peron. Duh. Duh 100x. I wasn't particularly on diet but I really didn't want to ea...

What is happiness? It sounds like a snack.

I would, like usually, open this post by saying "Things are crazy". Yes, I don't know are things really crazy or is it just me. I think it's the latter. Life appears as surprises to me. And I act like a door, opening this tunnel, closing another one. I don't feel dull, and I can't say my days have been dull for they are full with challenges. But I have been so alone. This also sounds weird. Since when that I'm not alone? I always pull myself back from any social event. I hang out alone. I guess the last time I had a good time outside the house/office/campus with another human being was the last Saturday in January, so it's a month ago. It is true that if I just ask, I will get people willing to go with me. But I am the pickiest picky pick ever because most of the times when I don't pick, I get bored with dull conversations, or a view of someone watching his/her phone like there's nothing else to see. So all this time I hang out alone. Mos...

yang hilang dan jadi debu

ada sesuatu yang diam-diam kupercaya walau ia hilang ditelan bisingnya Jakarta: Islam ada cara hidup yang sederhana, menawarkan kesadaran untuk mampu mengendalikan kecepatan, dengan disiplin lima kali dalam sehari, dan tidak lebih lama dari basa-basi ada cara bertutur yang tegas dan disetujui tubuh, istighfar membuatku sadar, bahwa yang sakit bisa pulih tasbih menunduk-daguku, bahwa seniman itu sebuah entitas hamdalah hangatkan bahuku, ada yang Maha kendali di atas kendaliku